11 Juli 2009 00:00 WIB
STUDI William Hudenko dari Ithaca College, New York, AS, menyimpulkan ada dua tipe utama tawa yakni bersuara dan tidak. "Kita membutuhkan riset lebih lanjut untuk memahami fungsi tawa bersuara dan yang tidak. Namun, hipotesis terbaik kami adalah tawa tanpa suara mungkin lebih sering digunakan dalam interaksi sosial, sedangkan yang bersuara lebih berhubungan dengan suasana jiwa yang positif," ujar Hudenko.
Tawa yang disertai suara biasanya lahir secara spontan dan alami. Sementara itu, tawa tak bersuara merupakan ekspresi yang disadari kala kita sengaja mencoba tertawa, terutama untuk menjalin keakraban. Pada orang dewasa, setiap jenis tawa secara keseluruhan mewakili sekitar 50%. Sementara itu, anak-anak lebih sering menunjukkan tawa bersuara daripada yang tidak.
Namun, tim Hudenko menemukan anak-anak autisme hampir tidak pernah mengeluarkan tawa tidak bersuara. Kebanyakan orang lebih memilih mendengar tawa yang bersuara ketimbang yang tidak. Hal itu memberikan keuntungan bagi anak-anak autisme. "Setidaknya kita tahu mereka menghasilkan tawa yang ingin didengar orang." (*/Livescience.com/X-5)
http://www.mediaindonesia.com/read/2009/07/07/84719/78/22/Tawa-dan-Motif-di-Baliknya

Post a Comment