Gerakan Konsumen Indonesia
The only thing necessary for the triumph of evil is for good men to do nothing. (Kejahatan hanya bisa terjadi ketika orang baik tidak berbuat apa-apa). ---Edmund Burke

Volume RAPBN 2010 di Bawah Rp 1.000 Triliun

2009-07-15

[JAKARTA] Volume RAPBN 2010 diproyeksikan lebih kecil dari volume APBN 2009, sehingga tidak mencapai Rp 1.000 triliun. Hal itu karena pemerintah melihat kondisi ekonomi global membaik, sehingga pengeluaran untuk stimulus ekonomi domestik dikurangi.

"Dalam APBN 2009, belanja negara memang sebesar Rp 1.000 triliun. Namun, dalam RAPBN Perubahan 2009, volumenya mengecil menjadi Rp 998 triliun, karena ada penerimaan pajak dan nonpajak yang berkurang, juga ada penerimaan migas yang berkurang. RAPBN-P 2009 akan menjadi basis penyusunan RAPBN 2010," jelas Direktur Perencanaan Makro Bappenas, Bambang Prijambodo, di Jakarta, Rabu (15/7).

Pada 2010, pemerintah memprediksi ekonomi global akan pulih dan kondisinya membaik. Dengan demikian, urgensi untuk memperbesar defisit demi memberikan dorongan kepada ekonomi 2010 melalui kebijakan fiskal, tidak akan sebesar APBN 2009.

"Dari situ dapat dipastikan, besaran defisit pada APBN 2010 akan lebih kecil dibandingkan 2009 yang sebesar 2,5 persen (dari PDB)," ujarnya.

Dalam RAPBN 2010, lanjut Bambang, pemerintah akan menghadapi beberapa tantangan. Salah satunya adalah mempertajam belanja negara, supaya dengan defisit yang lebih kecil, multiplier effect dari belanja negara bisa lebih besar. Selain itu, pemerintah juga dituntut untuk mampu menjaga komposisi utang agar tidak terus meningkat.

Tahun depan, diprediksi pula harga minyak mentah dunia naik. Hal tersebut wajar. Pasalnya, dengan ekonomi yang mulai bergairah, permintaan minyak mentah akan naik dan menyebabkan harga juga akan naik. "Yang jadi tantangan adalah bagaimana meningkatkan produksi minyak mentah dalam negeri. Meski dalam konteks peningkatan kebutuhan tidak besar, tapi ini membantu melunakkan kenaikan subsidi BBM," tuturnya.

Meskipun turun, dia melanjutkan, namun belanja negara dipastikan tetap akan besar, karena pemerintah berencana menambah alokasi beberapa pos pengeluaran, seperti pos anggaran pertahanan. Untuk itu, akan diintensifkan penerimaan pajak. "Tahun depan, karena ekonomi menguat, basis potensi pajak pun membesar," katanya.

Selain menggenjot pemasukan, ruang untuk merealokasi belanja juga masih tersedia. "Anggaran belanja pembangunan yang kurang memberi multiplier effect pada ekonomi bisa dialihkan," tutur Bambang.


Banjir Surat Utang

Terkait pembiayaan defisit, Dirjen Pengelolaan Utang Depkeu, Rachmat Walujanto mengakui, ke depan pasar akan dibanjiri surat utang negara, lantaran banyak negara harus membiayai stimulus fiskal. "Ini membuat pasar semakin jenuh. Namun, daya serap pasar Indonesia masih cukup tinggi, sehingga mampu memenuhi kebutuhan pembiayaan dalam negeri," tuturnya.

Ia juga yakin bahwa permintaan surat utang Indonesia di pasar internasional masih cukup tinggi, mengingat fundamental domestiknya terbilang stabil. Hal itu terbukti, pada kuartal I tahun ini, Indonesia berhasil mencatat pertumbuhan ekonomi 4,4 persen. Seiring dengan itu, peringkat utang Indonesia diperbaiki dari stabil menjadi positif.

"Bahkan, beberapa waktu lalu, Japan Rating Agency memperbaiki peringkat kredit kita dari BB menjadi BB+. Itu menambah daya tarik obligasi negara kita di pasar internasional," tuturnya.


Tujuh Prioritas

Sementara itu, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengungkapkan, pemerintah akan menyampaikan nota keuangan RAPBN 2010 di hadapan Sidang Paripurna DPR pada Senin (3/8). Jadwal tersebut dimajukan dari kelaziman setiap 16 Agustus. Pertimbangannya, karena ada transisi di pemerintahan dan parlemen, sehingga pembahasan RAPBN 2010 harus lebih awal.

Terkait arah RAPBN 2010, Presiden menegaskan, ada tujuh prioritas yang dituju pemerintah (lihat tabel). "Kinerja perekonomian 2010 langsung akan mengarah pada tujuh sasaran tersebut, yaitu inflasi, pertumbuhan, pengangguran, investasi, ekspor, sektor riil dan pertanian, energi serta perdagangan," jelasnya, seusai rapat kabinet di Jakarta, Selasa (14/7).

Presiden juga kembali menyinggung mengenai peningkatan anggaran pertahanan. "Terutama untuk operasional, pemeliharaan, pendidikan, latihan, modernisasi, serta pembangunan kekuatan sistem persenjataan secara bertahap," ujarnya.

Pada kesempatan tersebut, Menkeu Sri Mulyani Indrawati menjelaskan, postur RAPBN 2010 disesuaikan dengan tantangan yang dihadapi, serta kesinambungan program dan target yang hendak dicapai. Dia mengakui, pemilu yang berlangsung cukup tertib, memberi pengaruh positif pada kestabilan pasar, sehingga pemerintah dapat membuat perencanaan yang lebih matang. [D-10/L-10]

http://www.suarapembaruan.com/index.php?detail=News&id=9206
0 comments:

Post a Comment

Selamat Datang

Blog ini diproyeksikan untuk menjadi media informasi dan database gerakan konsumen Indonesia. Feed-back dari para pengunjung blog sangat diharapkan. Terima kasih.

Followers


Labels

Visitors

You Say...

Recent Posts