Senin, 03 Agustus 2009 08:04 MAM
Nokia menyadari daur ulang harus dilakukan pada electronic product/e-product (barang elektronik lantaran komponen ini tidak dapat diurai alam. Namun, hal itu belum disadari pengguna telepon genggam di Indonesia.
Francis Cheong, Regional Manager Enviromental Affairs Market SEAP Nokia, menyatakan electronic waste/e-waste (sampah elektronik) dapat ditangani dengan daur ulang. Langkah ini harus dilakukan sebagai konsekuensi penggunaan electronic product/e-product (barang elektronik).
E-waste perlu dilakukan pada e-product lantaran komponen-komponen produk itu berbahaya bagi lingkungan seperti efek rumah kaca. Alam tidak dapat menguraikan sejumlah komponen e-product.
Tiga manfaat diperoleh dari daur ulang e-product yaitu penguraian komponen itu tidak perlu dilakukan alam, pengurangan emisi gas karbondioksida ke udara, dan penghematan sumber daya alam (SDA) yang tidak dapat diperbaharui.
Produsen juga tidak perlu menggunakan bahan mentah besar lantaran bahan ini diambil dari produk daur ulang.
Salahsatu contoh e-product yang telah dapat didaur ulang adalah telepon genggam. Dari langkah ini dapat mengurangi emisi gas karbondioksida sebesar 12.585 kg.
Produk daur ulang telepon gengam dapat digunakan sebagai bahan pembuatan suatu produk lain seperti alat musik saksofon, peralatan masak, emas, dan meja makan. Produk ini diklaim aman lantaran telah diuji dengan proses dan standar internasional
Walaupun demikian tidak semua pengguna telepon genggam di Indonesia mengetahui produk ini dapat didaur ulang. Kesimpulan itu diketahui dari penelitian yang dilakukan Nokia di Indonesia.
Tiga dari empat orang tidak pernah berpikir telepon gengam yang mereka miliki dapat didaur ulang. Malahan, sebanyak 88% e-product yang telah digunakan mereka tidak terpakai dapat didaur ulang. Mochamad Ade Maulidin (ademaulidin@wartaekonomi.com)
http://www.wartaekonomi.co.id/index.php?option=com_content&view=article&id=2725:nokia-sadar-produk-elektronik-harus-didaur-ulang&catid=53:aumum

Post a Comment