Jumat, 11 September 2009 | 16:54 WIB
Laporan wartawan KOMPAS Eny Prihtiyani
BANTUL, KOMPAS.com — Kepala Dinas Pertanian dan Kehutanan Kabupaten Bantul Edy Suharyanto, Jumat (11/9), mengatakan, serangan hama tikus di Desa Argosari, Kecamatan Sedayu, makin meresahkan. Serangan tersebut membuat petani merugi hingga Rp 1,5 juta per hektarnya.
Meski serangan hama tikus di Argosari tidak sampai menyebabkan tanaman puso atau gagal panen, tingkat serangannya dari musim ke musim tidak kurang dari 10 persen. Akibatnya, kerugian yang ditimbulkan mencapai 0,7 ton gabah kering panen (GKP) per hektar atau senilai Rp 1,5 juta, paparnya.
Di Desa Argosari terdapat 250 hektar lawan sawah produktif. Artinya, tingkat kerugian berkisar Rp 295,4 juta untuk sekali musim tanam. Bila dibiarkan, kerugian petani akan terus bertambah sehingga keuntungan yang mereka peroleh semakin tidak kompetitif. Untuk mengatasi masalah tersebut, pemerintah menggalakkan kegiatan gropyokan untuk menekan populasi tikus. Dalam tiga minggu terakhir sebanyak 2.314 ekor tikus berhasil dibantai di Bulak Gubug Argosari. Gropyokan dilakukan selama tanggal 18 Agustus-9 September 2009.
Gropyokan tikus tersebut melibatkan sekitar 30 orang anggota kelompok tani dibantu oleh tenaga teknis dari Balai Proteksi Tanaman Pangan dan Hortikultura (BPTPH) DIY. Gropyokan menjadi metode pengendalian hama tikus yang paling efektif karena para petani langsung bisa memastikan bahwa tikus tersebut telah mati. Bila memakai metode lain seperti pemasangan umpan (klerat) dan metode pengasapan menggunakan karbid ataupun belerang hasilnya tidak bisa dipastikan.
Menurut Edy, tikus telah menjadi ancaman endemi di wilayah Argosari dan sekitarnya. Populasi tikus di daerah tersebut sulit diatasi karena adanya jalur rel ke reta api sepanjang 1500 m dan gundukan-gundukan tanah di tengah sawah. Jalur rel kereta api juga mempersulit upaya gropyokan. Jika tikus lari bersembunyi di lubang pada tanggul rel kereta api maka petani tidak berani lagi membongkar liang persembunyian tikus karena takut berurusan dengan PT Kereta Api.
Parman, petani di Bulak Code Bantul, mengatakan, serangan tikus juga menjadi persoalan petani di wilayahnya. Namun, kegiatan gropyokan masih sulit dilakukan karena petani kurang kompak.
http://regional.kompas.com/read/xml/2009/09/11/16544057/serangan.tikus.rugikan.petani.hingga.rp.15.juta.per.hektar

Post a Comment