Kamis, 17 Desember 2009
BANDAR LAMPUNG--Meski pasokan daya listrik di Lampung saat ini mencukupi untuk kebutuhan konsumen, rentan terhadap krisis. Jika pembangkit atau sistem jaringan rusak, byarpet listrik tak bisa dihindari.
Seperti yang terjadi beberapa waktu lalu. Dua Pembangkit Listrik Tenaga Diesel (PLTD) Tarahan dengan kapasitas 2 x 100 megawatt rusak bersamaan. Akibatnya Lampung yang memiliki pasokan daya 440 megawatt berkurang 200 megawatt atau tinggal 240 megawatt. Sementara kebutuhan konsumen mencapai 416 megawatt pada saat beban puncak. Dampaknya pemadaman bergilir sering dilakukan.
General Manager PT PLN Wilayah Lampung Maswar Kukuh Trihadi mengakui kerentanan tersebut. Jika terjadi kerusakan pada pembangkit atau sistem jaringan, pasokan daya berkurang dan pemadaman bergilir menjadi pilihan yang tidak bisa dihindari.
"Dari dulu sampai sekarang problem listrik selalu sama. Kekurangan daya. Apa PLN tidak memiliki perencanaan dalam pengadaan sumber daya listrik," kata Zahral dari RRI Bandar Lampung saat Bincang Sabtu PWI Sabtu pekan lalu. Tema yang diusung dalam acara itu Mencari solusi dan mengatasi krisis listrik yang byarpet.
Ketua Yayasan Perlindungan Konsumen Indonesia (YLKI) Lampung, Subadra Yani pun sependapat. Salah satu persoalan klasik kelistrikan yang tak kunjung selesai adalah soal pembangkitan.
Selain PLTD Tarahan, kata dia, Lampung juga memiliki PLTA. Namun, hal ini tidak dapat dimanfaatkan secara optimal. Seperti PLTA Batu Tegi dan PLTA Way Besai.
Kukuh yang didampingi Manajer Teknik PLN Wilayah Lampung Eris M. Gultom menyatakan sebenarnya sejak 1990 Lampung sudah merencanakan pembangunan pembangkit listrik di Tarahan Unit I, II, III dan IV.
"Ini proyek Pusat untuk mengantisipasi pertumbuhan konsumen listrik, khususnya di Lampung," kata Kukuh.
Untuk Unit I dan II dikerjakan swasta sedangkan Unit III dan IV dikerjakan PLN. Total kapasitas listrik yang akan dihasilkan adalah 4 x 100 megawatt. Namun, hingga pembangkit di Tarahan Unit III dan IV dengan kapasitas 2 x 100 megawatt selesai dibangun, Unit I dan II belum juga dilaksanakan.
Tidak Optimal
Mengenai ketidakoptimalan PLTA yang ada, Eris mengakui salah satu penyebabnya adalah kondisi lingkungan di sekitar PLTA yang mengakibatkan debit air berkurang. Dampaknya terjadi pada operasional PLTA.
Misalnya, PLTA Batu Tegi, Tanggamus. Karena debit air berkurang atau permukaan air menyusut sekitar 20 meter, PLTA Batu Tegi yang berpotensi menghasilkan listrik 2 x 20 megawat tidak dapat dioperasikan. Air dari Batu Tegi diprioritaskan untuk irigasi.
Selain itu, PLTA Way Besai yang potensinya mencapat 90 megawatt menyusut menjadi 44 megawatt akibat debit air berkurang.
Kukuh menambahkan Lampung pasokan daya yang cukup telah membuat Lampung rentan krisis listrik. Tidak ada pasokan daya cadangan bila terjadi gangguan baik pada pembangkit listrik atau sistem jaringan transmisi tegangan tinggi pada interkoneksi Sumatera.
Dahan pohon yang terlalu dekat dari jaringan--kurang dari 1 meter--berpotensi menimbulkan gangguan. Jika hujan turun dan dahan atau ranting pohon menempel pada kabel jaringan bisa mengakibatkan hubungan arus pendek. Selain itu benang layang-layang yang menempel di jaringan kabel listrik juga berpotensi menimbulkan gangguan.
Untuk itu Kukuh mengimbau kepada masyarakat untuk ikut serta dalam menjaga dan mengawasi berbagai macam gangguan tersebut. Dengan demikian, pemadaman bergilir bisa diantisipasi. n TRIHADI JOKO/K-3
http://www.lampungpost.com/cetak/berita.php?id=2009121700553917

Post a Comment