2009-12-04
Tak ada rotan, akar pun jadi. Tak ada minyak tanah, biji sawit solusinya. Adagium yang sudah dipelesetkan ini cocok melukiskan negeri tercinta Indonesia, yang kaya raya dan sangat subur. Tinggal bagaimana anak bangsa berkreasi memanfaatkannya.
Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Mennakertrans) Muhaimin Iskandar sangat menyadari hal ini, sehingga saat melakukan kunjungan kerja ke Provinsi Jambi, menyerahkan 250 kompor berbahan bakar kelapa sawit kepada para transmigran, yang sebagian besar petani sawit, di Tanjungjabo Timur, Provinsi Jambi, beberapa waktu lalu.
Muhaimin mengatakan, sangat mendukung pengembangan produksi yang memanfaatkan sumber daya lokal, seperti kompor sawit yang telah didemokan di hadapan masyarakat. Kompor ini, kata dia dalam rilis yang dikirim ke SP, masih dalam tahap ujicoba. Apabila layak dan masyarakat menerimanya, program ini akan dikembangkan di seluruh kota terpadu mandiri (KTM), yang mempunyai kawasan perkebunan sawit dan akan bekerja sama dengan koperasi-koperasi yang telah berkembang di lokasi transmigrasi.
Menurut Mennakertrans, program kompor sawit ini sangat strategis dalam mendukung pengembangan energi alternatif, mengingat bahan bakar berasal dari fosil semakin langka. Pengembangan energi alternatif ini juga merupakan salah satu prioritas program kerja 100 hari Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.
Muhaimin menyatakan, pengembangan inovasi kompor sawit ini bekerja sama dengan Prof Subur Budisantosa, selaku Dewan Pertimbangan Presiden Bidang Energi alternatif.
Menurut Staf Khusus Dewan Pertimbangan Presiden Bidang Pengembangan Energi Alternatif, Bayu Himawan, kompor sawit ini secara teknis dan ekonomis sangat layak, mengingat tingkat kepanasan api lebih tinggi dari kompor gas elpiji, atau setara panas api kompor minyak tanah, namun harga bahan bakarnya jauh lebih murah, serta kompor sawit ini sangat mudah digunakan oleh masyarakat.
Direktur Jenderal Pembinaan Pengembangan Masyarakat dan Kemasyarakatan Transmigrasi (Dirjen P2MKT), Drs Djoko Sidik Pramono, MM, yang selama ini bertugas menyediakan minyak tanah untuk transmigran, menyatakan, tahun ini KTM Geragai mendapatkan bantuan 250 unit kompor sawit, dan tahun 2010 untuk UPT-UPT di kawasan KTM akan disediakan sebanyak lebih kurang 5.000 unit.
Depnakertrans melalui Ditjen P2MKT, telah menyediakan kebutuhan energi, baik untuk penerangan maupun untuk bahan bakar memasak di kawasan transmigrasi, seperti penyediaan kompor berbahan bakar briket batu bara dan penyediaan penerangan dengan pembangkit listrik tenaga surya.
Kompor sawit ini sangat hemat bahan bakar. Satu kilogram biji sawit dengan harga Rp 700, bisa dipakai selama lima jam. [L-8]
http://www.suarapembaruan.com/index.php?detail=News&id=12237

Post a Comment