18 Desember 2009 | 14:18 wib
Semarang, Cybernews. Operator Bus Rapid Transit (BRT) Semarang diminta memaparkan hasil evaluasinya sebelum mendapat kucuran subsidi dari Pemkot. Hasil evaluasi sebagai rekam kinerja angkutan massal itu menjadi tolok ukur bisa dan tidaknya kucuran subsidi direalisasikan. Keberadaan PT Trans Semarang sebagai konsorsium operator sudah secara otomatis menanggung konsekuensi dari untung-rugi kinerja perusahaan.
Ketua Lembaga Pembinaan dan Perlindungan Konsumen (LP2K), Ngargono mengatakan, sejak diluncurkan H-2 lebaran Idul Fitri lalu hingga sekarang, operator perlu menjabarkan berapa jumlah penumpang rata-rata setiap hari yang sudah bisa diangkut BRT. Selain itu, bagaimana perusahaan juga diminta menjelaskan belanja kebutuhan operasional. Juga, bagaimana rencana kerja operator BRT pada tahun 2010.
Untuk menentukan besaran subsidi yang akan dikucurkan tentunya harus mempertimbangkan sedikitnya tiga indikator tersebut. Terlebih hingga kini ia belum melihat optimalisasi kinerja BRT, terutama dari jumlah penumpang yang ada.
"Sejak diluncurkan pertengahan September hingga sekarang, tidak ada lonjakan rata-rata jumlah penumpang setiap harinya. Kami juga ingin mengetahui bagaimana rencana kerja Pemkot maupun operator BRT pada 2010. Jangan sampai subsidi yang diberikan itu salah sasaran," katanya, Jumat (18/12), menangapi rencana Pemkot memberi subsidi BRT Rp 7,1 miliar.
( Moh Anhar / CN12 )
http://suaramerdeka.com/v1/index.php/read/news/2009/12/18/42365/Subsidi-BRT-Semarang-Rp-71-Miliar

Post a Comment