Jumat, 8 Januari 2010 | 7:59 WIB
Surabaya-Surya- Pergerakan harga gula pasir di dalam negeri semakin tak terkendali. Prediksi harga akan kembali di kisaran Rp 8.000-9.000 / kg di tingkat eceran pasca pergantian tahun, rupanya meleset. Harga jual gula di tingkat konsumen akhir (end user) saat ini bahkan sudah menyentuh Rp 11.000 / kg hingga Rp 13.000/kg di Jatim.
Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Jatim Zaenal Abidin mengatakan tingginya harga gula di tingkat eceran tak terelakkan mengingat harga di tingkat lelang saat ini sudah mencapai Rp 8.700/ kg. Harga ini membengkak ketika jatuh ke tangan distributor besar karena ditambah biaya angkut dan bongkar muat serta susut bunga bank yang kisarannya Rp 1.200/kg.
“Jadi, dari distributor utama rata-rata sudah mahal, yaitu Rp 9.900/kg. Kemudian ke tangan distributor II dan III ditambah lagi ongkos bongkar muat dan susut bunga maka jadinya Rp 10.700 / kg. Masuk ke pengecer, harga menjadi antara Rp 11.000/kg hingga Rp 11.500/kg,” jelas Zainal.
Namun, harga ini pun terbilang masih tinggi. Bandingkan dengan harga menjelang Lebaran lalu, yang di tingkat eceran sebesar Rp 9.000/kg. Padahal, semestinya, dengan permintaan gula yang tinggi selama Lebaran, semestinya setelah Lebaran usai, harga turun. Kenyataannya, harga gula sekarang justru tambah menggila.
Dengan persediaan gula yang kian menipis di Jatim saat ini, stok itu diperkirakan tidak akan mencukupi kebutuhan masyarakat hingga musim giling 2010.
Kemarin, Zaenal mengemukakan, sampai saat ini persediaan gula di Jatim tinggal 144 ribu ton.
“Jika diasumsikan tingkat konsumsi masyarakat mencapai 50 ribu ton per bulan, maka persediaan ini hanya mencukupi kebutuhan sampai tiga bulan ke depan,” kata Zaenal saat ditemui di gedung DPRD Jatim di Jl Indrapura, Surabaya.
Padahal, musim giling gula baru akan dimulai pada Mei 2010. Karena itu, dia berharap impor gula kristal putih sudah bisa dilakukan paling lambat Maret 2010 untuk mengatasi krisis gula di Jatim.
Sebelumnya Direktur Pengembangan PTPN X, Suyitno, menyebutkan, gula yang masih tersimpan di sejumlah gudang pabrik gula sebanyak 195 ribu ton. Namun, kini tinggal 144 ribu ton.
Sementara itu, anggota Komisi B DPRD Jatim, Sumrambah, menduga bahwa harga gula di Jatim dipermainkan oleh sembilan pedagang besar. Pemerintah diminta tegas pada mereka.
Kata Sumrambah, sembilan pedagang besar itu memiliki beberapa perusahaan distribusi gula. Mereka memiliki stok gula dan diperkirakan bisa mengendalikan harga.
Tetapi, Sumrambah tak menyebut siapa sembilan orang itu. Ia hanya mengatakan sembilan pedagang yang disebut `sembilan samurai` itu diduga meraup untung besar. Dengan harga sekarang, dan produksi total gula Jatim sekitar 1 juta ton, maka pedagang meraup Rp 4 triliun.
Terkait tingginya harga gula, Gubernur Soekarwo kemarin merasa geregetan. Karena itu, ia akan memanggil distributor-distributor besar gula di Jatim dan meminta mereka lebih terbuka terkait manajemen harga gula.
“Saya benar-benar geregetan. Manajemen harga gula harus terbuka. Kalau untungnya terlalu tinggi itu berlebihan. Itu hazard (penyimpangan),” kata Soekarwo, Kamis (7/1), di Surabaya.
Menurut dia, dengan manajemen harga gula yang tak jelas maka nilai tambah gula tak berada di petani tapi di distributor. Karena itu, Pemprov Jatim akan mengundang delapan distributor gula di Jatim dan PT Perkebunan Nusantara untuk melakukan negosiasi terkait harga gula.
Asisten II Sekdaprov Jatim, Chaerul Djaelani mengatakan, produksi gula di Jatim pada tahun 2009 sebanyak 1,1 juta ton, dan yang dikonsumsi 400.000 ton sehingga surplus 700.000 ton.
“Namun karena sistem produksi gula dan penjualan sulit dikontrol sehingga harganya tinggi,” katanya.
Oleh sebab itu dia mengusulkan agar harga gula ditentukan berdasarkan mekanisme batas atas dan batas bawah. “Kalau sudah ada mekanisme seperti itu, kenaikan harga gula bisa dikontrol. Tidak seperti saat ini,” katanya.
Selasa (5/1) lalu, Ketua Asosiasi Pengusaha Gula Indonesia (APGI), Pikko, membantah adanya penimbunan di tingkat pedagang besar yang menyebabkan harga gula terus naik.
”Apanya yang mau ditimbun, wong barangnya saja tidak ada. Saya justru mau cari informasi ke Jakarta mengapa kondisinya sampai seperti ini, harga menjadi tidak karuan,” cetusnya.ame/iks/ant/kcm
http://www.surya.co.id/2010/01/08/diduga-gula-dimainkan-sembilan-samurai-harga-tak-terkendali-stok-tipis.html

Post a Comment