Gerakan Konsumen Indonesia
The only thing necessary for the triumph of evil is for good men to do nothing. (Kejahatan hanya bisa terjadi ketika orang baik tidak berbuat apa-apa). ---Edmund Burke

Kenaikan Tarif Transjakarta Ditolak

2010-01-06

Joanito De Saojoao

Polisi dan petugas DLLAJR memeriksa bangkai bus Transjakarta yang terbakar di Jalan Kramat Raya, Jakarta Pusat, pada 29 Desember 2009. Pihak pengendalian bus Transjakarta menduga korsleting sebagai penyebab terbakarnya bus gandeng jurusan Kampung Melayu - Ancol tersebut.

[JAKARTA] Tarif Transjakarta belum pantas naik, mengingat pelayanan moda transportasi bus itu belum optimal, terutama dalam keamanan dan kenyamanan penumpang. Selain kerap berdesakan di halte dan bus, penumpang Transjakarta juga harus menunggu kedatangan bus berjam-jam.

"Kenaikan tarif hanya dapat dilakukan setelah pelayanan yang diberikan kepada masyarakat telah maksimal. Jika tidak, kenaikan itu bisa membuat masyarakat kembali beralih ke kendaraan pribadi," ujar anggota Komisi B DPRD DKI Andyka di Jakarta, Selasa (5/1).

Pelayanan Transjakarta dinilai Andyka belum maksimal, terutama infrastruktur yang belum sempurna, seperti kerusakan halte dan jalur yang masih sering diserobot kendaraan lain, sehingga menghambat laju bus. Keamanan penumpang dari bahaya kebakaran juga belum terjamin, seperti pada Selasa (29/12) di busway Koridor V jurusan Kampung Melayu-Senen di Jalan Kramat Raya, Jakarta Pusat.

"Jika permasalahan-permasalahan itu telah dibenahi, maka dengan sendirinya masyarakat akan dapat menerima kenaikan tarif," kata Andyka seperti dikutip Antara.

Sebelumnya, Gubernur DKI Fauzi Bowo pada Senin (4/1) mengatakan, pihaknya mempertimbangkan untuk menaikkan tarif bus Transjakarta agar bisa memenuhi kenaikan subsidi yang digunakan untuk membiayai operasional dan pemeliharaan bus.

Kenaikan subsidi tersebut terjadi karena Badan Arbitrase Nasional Indonesia (BANI) memutuskan biaya operasional Rp12.000 per km seperti diajukan konsorsium operator busway. BANI menolak biaya Rp 9.500/ km yang diajukan Pemprov DKI, sehingga subsidi bus Transjakarta membengkak hingga lebih dari Rp 100 miliar.

Sementara itu, Kepala Bidang Angkutan Darat Dinas Perhubungan DKI Hendah Sunugraha mengakui bahwa pertimbangan untuk menaikkan tarif itu antara lain agar subsidi tidak membebani APBD.

Namun, wacana pertimbangan kenaikan tarif bus Transjakarta itu tidak bisa diterapkan langsung karena masih terdapat sejumlah tahapan pengkajian yang harus dilakukan. Salah satu hal yang menjadi bahan pertimbangan antara lain adalah kondisi perekonomian.

"Kita lihat suasana ekonomi, kalau positif, kenaikan tarif itu dalam batasan tertentu barangkali bisa dikompensasi dengan pertumbuhan dan pendapatan masyarakat yang proporsional," kata Fauzi.


Ditolak Warga

Sejumlah warga Jakarta juga menolak wacana untuk menaikkan tarif bus Transjakarta yang saat ini bisa mengangkut hingga jutaan penumpang setiap tahunnya. Seharusnya, Pemprov DKI memperbaiki berbagai sektor layanan bus Transjakarta.

"Saya tidak setuju karena busway adalah alat transportasi massal yang banyak dipakai orang," kata Ipul (30), pegawai bank swasta di Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta.

Senada dengan Ipul, warga lainnya Mirce (35) menyatakan tidak setuju terhadap usulan kenaikan tarif yang sedang dipertimbangkan Pemprov DKI. Pengelola bus Transjakarta agar memperhatikan faktor keamanan, jalur khusus yang belum benar-benar steril, serta perilaku sejumlah pengemudinya, sehingga menimbulkan kecelakaan.

"Masih ada sopir busway yang saya lihat ber-sms saat mengemudi," katanya. [U-5]

http://www.suarapembaruan.com/index.php?detail=News&id=12878
0 comments:

Post a Comment

Selamat Datang

Blog ini diproyeksikan untuk menjadi media informasi dan database gerakan konsumen Indonesia. Feed-back dari para pengunjung blog sangat diharapkan. Terima kasih.

Followers


Labels

Visitors

You Say...

Recent Posts