Gerakan Konsumen Indonesia
The only thing necessary for the triumph of evil is for good men to do nothing. (Kejahatan hanya bisa terjadi ketika orang baik tidak berbuat apa-apa). ---Edmund Burke

Ketika Dokter Dianggap Membunuh

Minggu, 10 Januari 2010 | 05:15 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta - Di antara segala argumentasi yang menentang voluntary euthanasia (eutanasia sukarela) untuk meringankan penderitaan seseorang, yang paling berpengaruh adalah apa yang disebut argumentasi slippery slope: sekali kita membiarkan dokter membunuh pasien, kita tidak bakal bisa membatasi pembunuhan ini hanya pada pasien yang meminta agar hidupnya diakhiri.

Tidak ada bukti yang mendukung pandangan ini, bahkan beberapa tahun setelah terjadinya bunuh diri dengan bantuan dokter atau voluntary euthanasia itu di Belanda, Swiss, dan di Negara Bagian Oregon, Amerika Serikat. Tapi, apa yang terungkap baru-baru ini tentang hal yang terjadi di sebuah rumah sakit di New Orleans setelah terjadinya Badai Katrina menunjukkan adanya bahaya yang nyata dari sumber yang berbeda.

Ketika New Orleans dilanda banjir pada Agustus 2005, Memorial Medical Center, sebuah rumah sakit umum yang sedang merawat lebih dari 200 pasien, terisolasi oleh ketinggian air. Tiga hari setelah terjadinya badai, listrik di rumah sakit ini putus, demikian pula pasokan air, yang mengakibatkan toilet tidak dapat digelontor. Beberapa pasien yang bergantung pada sistem sirkulasi udara akhirnya meninggal.

Dalam ruang yang pengap, dokter dan perawat dengan susah payah berusaha merawat pasien-pasien yang terbaring di tempat tidur dengan seprai yang kumuh. Sementara itu, tersiar berita bahwa di kota telah terjadi penjarahan, dan rumah sakit mungkin bakal menjadi sasaran berikutnya. Helikopter dikerahkan untuk mengevakuasi pasien. Prioritas diberikan kepada mereka yang masih bisa berjalan sendiri. Polisi tiba dan mengatakan bahwa kerusuhan telah melanda kota dan, karena itu, semua yang berada di rumah sakit harus diungsikan sebelum pukul 5 sore.

Di lantai delapan, Jannie Burgess, seorang wanita berusia 79 tahun yang menderita kanker, bertahan dengan suntikan morfin dan sudah mendekati ajal. Untuk mengevakuasinya, Jannie terpaksa dibawa turun enam lantai dan memerlukan perhatian para perawat, yang pada saat yang sama dibutuhkan di bagian lain rumah sakit. Tapi, jika Jannie ditelantarkan, ia mungkin akan sadar setelah habisnya efek morfin dan merasakan sakit yang tak terperikan. Ewing Cook, salah serang dokter yang ada bersamanya saat itu, memerintahkan perawat menambah suntikan morfin bagi Jannie, "Seadanya saja, sampai ia mengembuskan napasnya yang terakhir." Cook menceritakan hal ini kepada Sheri Fink, yang baru-baru ini menurunkan tulisan mengenai apa yang terjadi dalam sebuah artikel yang dimuat di harian New York Times.

Menurut Fink, Anna Pou, seorang dokter lainnya, mengatakan kepada perawat, beberapa pasien di lantai tujuh juga terlalu parah keadaannya sehingga tidak mungkin bisa bertahan. Anna memberikan suntikan morfin dan obat lainnya kepada mereka untuk memperlambat napas mereka sampai meninggal.

Setidaknya salah satu dari pasien yang diberi kombinasi obat yang mematikan ini tampaknya tidak berada dalam bahaya kematian yang segera. Pasien tersebut, yang bernama Emmett Everett, seorang pria berusia 61 tahun, menderita lumpuh akibat kecelakaan beberapa tahun yang lalu dan berada di rumah sakit untuk operasi meringankan susah buang air besar. Ketika pasien-pasien lain di ruang yang sama diungsikan, ia memohon agar tidak ditinggalkan.

Tapi Everett beratnya hampir 173 kilo dan karena itu sulit membawanya turun tangga lalu naik lagi ke tempat helikopter mendarat. Dokter mengatakan suntikan yang diterimanya akan membantu mengurangi pusing yang dirasakannya.

Pada 1957, sekelompok dokter bertanya kepada Paus Pius XII apakah diperbolehkan menggunakan narkotik untuk menekan rasa sakit dan kesadaran "jika orang tahu penggunaan narkotik itu akan mempersingkat usia seseorang”. Paus menjawab, memang diperbolehkan. Dalam Deklarasi mengenai Euthanasia, yang dikeluarkan pada 1980, Vatikan menegaskan kembali pandangan tersebut.

Sikap yang diambil Vatikan ini merupakan penerapan atas apa yang dikenal sebagai "doktrin efek ganda”. Suatu tindakan yang punya dua efek, satu baik dan satunya buruk, diperbolehkan jika efek yang diniatkan itu adalah efek yang baik, sedangkan efek buruk cuma merupakan akibat yang tidak dikehendaki dalam upaya mencapai efek yang baik tersebut. Baik pernyataan Paus maupun Deklarasi mengenai Euthanasia tidak menekankan pentingnya persetujuan sukarela, bila mungkin, dari pasien yang diberi penjelasan selengkapnya sebelum diambilnya tindakan yang bakal mempersingkat usianya.

Menurut doktrin efek ganda ini, dua orang dokter boleh, dalam kenyataannya, melakukan hal yang sama, yakni mereka boleh memberikan kepada pasien yang sama kondisinya, morfin dalam dosis yang sama dan sadar bahwa dosis ini akan mempersingkat usia pasien. Namun satu dokter, yang berniat meringankan rasa sakit pasien, bertindak sesuai dengan praktek kedokteran yang baik; sedangkan dokter lainnya, yang berniat mempersingkat umur pasien, dianggap telah melakukan pembunuhan.

Dr Cook tidak punya banyak waktu untuk menghaluskan bahasa seperti itu. Cuma "seorang dokter yang sangat naif" yang berpikir bahwa memberikan morfin yang banyak tidak "menyebabkan kematian dini seseorang”, demikian katanya kepada Fink, dan kemudian menambahkan: "Kita sudah membunuh mereka!" Menurut pendapat Cook, garis yang memisahkan sesuatu yang etis dengan sesuatu yang ilegal itu "begitu tipis sehingga nyaris tidak terlihat".

Di Memorial Medical Center, para dokter dan perawat merasakan tekanan yang berat. Lelah setelah 72 jam hampir tidak tidur sama sekali dan berjuang merawat pasien, mereka tidak berada dalam posisi yang terbaik untuk mengambil keputusan yang etis dan sulit itu. Jika dipahami dengan baik, doktrin efek ganda itu tidak membenarkan apa yang telah dilakukan para dokter tersebut. Tapi, dengan membiasakan mereka dengan praktek mempersingkat usia tanpa izin pasien, ini tampaknya telah membuka jalan bagi dilakukannya pembunuhan dengan sengaja.

Para pemikir Katolik Roma termasuk di antara mereka yang paling vokal menyuarakan argumentasi slippery slope terhadap voluntary euthanasia dan kematian yang dibantu dokter. Mereka sebaiknya menelaah konsekuensi yang timbul akibat doktrin mereka sendiri. (*)


Peter Singer, Guru Besar Bioetika pada Princeton University, Guru Besar Laureate pada University of Melbourne, pengarang Practical Ethics, Rethinking Life and Death and The Life You Can Save.

http://www.tempointeraktif.com/hg/kolom/2010/01/10/kol,20100110-125,id.html
0 comments:

Post a Comment

Selamat Datang

Blog ini diproyeksikan untuk menjadi media informasi dan database gerakan konsumen Indonesia. Feed-back dari para pengunjung blog sangat diharapkan. Terima kasih.

Followers


Labels

Visitors

You Say...

Recent Posts