Jumat, 15/01/2010 13:31 WIB
Nurul Ulfah - detikHealth
California, WHO belum lama mengumumkan bahwa obat antiretroviral sebagai satu-satunya obat yang sangat efektif memerangi penyakit HIV/AIDS jika dikonsumsi rutin. Namun kekhawatiran adanya resistensi (kekebalan) obat pun kini mulai merebak.
Kekhawatiran itu muncul setelah peneliti dari the University of California, the University of Tennessee dan the University of Ottawa menganalisis data penggunaan obat antiretroviral (ARV) di San Francisco sejak tahun 1987.
Dengan menggunakan model perhitungan khusus tentang resistensi obat, diketahui bahwa warga San Fransisco yang mendapatkan penanganan obat anti viral terus menerus atau berlebih, mengalami kekebalan obat dan sistem imunnya tidak meningkat dengan signifikan.
"Berdasarkan model percobaan yang kami buat, resistensi obat akan menigkat 30 persen sekitar 3 hingga 5 tahun lagi dari sekarang," kata Sally Blower, seorang professor dari David Geffen School of Medicine, University of California seperti dilansir Times, Jumat (15/1/2010).
Namun sejauh belum ada kerusakan sistem imun tubuh akibat resistensi obat antiretroviral, WHO mengatakan tidak akan menarik obat yang sering diresepkan pada penderita HIV tersebut.
"Tapi tetap saja WHO harus mengantisipasi hal ini, terutama di negara-negara berkembang. Ini adalah peringatan bagi para peneliti untuk segera mengeluarkan vaksin HIV," ujar Jim Kahn, pakar dan professor obat-obatan dari University of California , San Francisco .
Apapun yang terjadi, studi yang dimuat dalam jurnal Science ini menyebutkan bahwa penanganan HIV di masa mendatang akan semakin sulit dan mahal.
"Untuk itu, selama belum ada vaksinnya, sebaiknya hindari faktor-faktor risiko penularannya seperti pemakaian jarum suntik tidak steril dan seks tidak aman," kata Kahn.(fah/ir)
http://health.detik.com/read/2010/01/15/133138/1279212/763/obat-anti-hiv-resisten-5-tahun-lagi

Post a Comment