2010-01-09
SP/M Kiblat Said
[MAKASSAR] Gubernur Sulawesi Selatan (Sulsel) Syahrul Yasin Limpo menilai larangan pemerintah pusat untuk mengekspor beras ke luar negeri sangat mengganjal perkembangan usaha pertanian di Sulsel. Jika 2010 ini pemerintah pusat tidak juga mengerti dengan kondisi yang dihadapi Sulsel, Syahrul akan memerintahkan pengusaha Sulsel untuk menerobos ekspor beras ke Malaysia.
"Sulsel memiliki surplus beras yang cukup banyak, kalau sebagian besar hasil itu hanya untuk memenuhi permintaan antarpulau, nilainya terlalu rendah. Sementara negeri tetangga Malaysia sudah berulang kali meminta Sulsel untuk mengirim beras dengan harga yang sangat bagus, hanya terkendala regulasi pemerintah pusat," kata Syahrul kepada pimpinan media pada acara silaturahmi di rumah dinas gubernur, di Makassar, Jumat (8/1).
Sulsel dan Malaysia telah menjalin hubungan dagang, khususnya hasil pertanian. Berulang kali Perdana Menteri (PM) Malaysia Dato Sri Mohd Najib bin Tun Razak dan rombongan berkunjung ke Makassar dan Gowa, Sulsel. Tahun lalu saja, dua kali dan selalu menanyakan tentang kesiapan Sulsel mengirimkan beras ke Malaysia, tetapi, sampai saat ini belum dapat berbuat banyak karena kebijakan pemerintah pusat yang memproteksi.
Memacu Devisa
Keinginan untuk meng-ekspor itu dilakukan untuk memacu devisa Sulsel dari sektor pangan setelah over stock mencapai target 2 juta ton. Masalahnya, harga beras lokal hanya pada kisaran Rp 5.000, sementara ekspor ke Malaysia Rp 8.900 per kilogram (kg) dan Rp 10.700 per kg di Filipina.
Larangan tersebut sangat tidak adil, apalagi ditengah stok beras nasional yang aman. Apa kompensasi yang diberikan pemerintah pusat terhadap rakyat Sulsel, itu tidak jelas. Padahal, Sulsel sudah memberikan kontribusi yang sangat besar terhadap pangan nasional. "Saya akan laporkan masalah ini kepada bapak presiden sebelum kita menerobos ekspor ke Malaysia," ujarnya.
Kepala Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura Sulsel Lutfi Halide mengatakan, target surplus beras Sulsel 2 juta ton sudah tercapai. Berbagai langkah yang dilakukan untuk mengejar target tersebut, di antaranya mengakselerasi lahan seluas 870.000 hektare (ha) dengan asumsi bahwa setiap ha membutuhkan Rp 1 juta, maka dibutuhkan sekitar Rp 870 miliar untuk mencapai target tersebut. Hasilnya, setara dengan lima juta gabah kering giling (GKG). Kalau harga- nya diasumsikan Rp 2.800 per kg GKG, maka dalam jangka waktu 150 hari beredar uang di Sulsel sebanyak 5 juta ton x Rp 2.800, sekitar Rp 14 triliun.
Sebelumnya, over stok beras Sulsel sebesar 1,2 juta ton dan ini tidak boleh diekspor karena 300.000 ton dijadikan penyangga pangan nasional. Sejak tahun lalu, sudah ada kelebihan stok mendekati 1 juta ton, hanya saja pemerintah pusat melarang ekspor.
Demikian pula dengan jagung, luas areal tanaman jagung di Sulsel sekitar 400.000 ha. Kalau asumsi per ha menghasilkan 4 ton, maka total produksi jagung Sulsel akan mencapai 1,6 juta ton, melampaui target yang hanya 1,5 juta ton. Dengan patokan harga jagung Rp 2.400 per kg, maka uang yang beredar di tingkat petani jagung sebesar Rp 4 triliun.
Minyak Tanah Langka
Sementara itu, kelangkaan minyak tanah di Kota Bengkulu masih terjadi. Akibatnya, harga eceran Rp 8.000 per liter. Padahal, harga eceran tertinggi (HET) minyak tanah di Kota Bengkulu sesuai surat keputusan (SK) Wali Kota hanya Rp 2.400 per liter.
"Saya tidak habis pikir, berganti tahun minyak tanah semakin sulit di Kota Bengkulu. Karena kami membutuhkan, meski mahal tetap dibeli," kata Syahrul (35), warga Kota Bengkulu kepada SP, di Bengkulu, Jumat (8/1).
Tingginya harga minyak tanah sangat dikeluhkan masyarakat kecil. Dengan harga minyak tanah Rp 8.000 per liter, mereka tidak mampu membeli sesuai kebutuhan. "Terus terang, kami sangat berat membeli minyak tanah Rp 8.000 per liter karena uang yang ada sangat terbatas," kata Jumilah (43), warga Sawah Lebar, Kota Bengkulu.
Untuk itu, dia berharap kepada Pemkot Bengkulu segera mengatasi kelangkaan minyak tanah, sehingga masyarakat yang membutuhkan tidak kesulitan mendapatkan di pangkalan. Dengan tersedianya stok minyak tanah yang cukup, harga minyak tanah di Kota Bengkulu kembali stabil Rp 3.000 per liter.
Tak Sebanding
Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kota Bengkulu Janatul membenarkan, harga eceran minyak tanah di daerah ini tembus Rp 8.000 per liter. Ini terjadi karena stok minyak tanah di pangkalan tidak sebanding dengan permintaan dari konsumen.
Akibatnya, begitu pasokan minyak tanah sampai di pangkalan langsung diserbu pembeli dan dalam tempo singkat stok minyak tanah kembali langka di pangkalan. "Hal inilah yang menyebabkan harga minyak tanah di Kota Bengkulu meroket sampai Rp 8.000 per liter," ujarnya.
Dia sudah mengusulkan ke Pertamina Bengkulu untuk menggelar operasi pasar di setiap kelurahan yang ada di daerah ini, sehingga kebutuhan minyak tanah masyarakat dapat diatasi dengan baik. Upaya lain, pihak Disperindag sudah menyarankan kepada masyarakat untuk menggunakan bahan bakar gas, karena bahan bakar ini tidak sulit mendapatkanya di Bengkulu.
"Kita sudah mengimbau masyarakat Kota Bengkulu untuk beralih ke bahan bakar gas, karena minyak tanah semakin sulit di dapat di daerah ini, serta harganya terus meningkat. Kalau warga menggunakan gas, lebih menguntungkan dari minyak tanah," ujarnya. [148/143]
http://www.suarapembaruan.com/index.php?detail=News&id=12943

Post a Comment