Rabu, 10 Juni 2009 | 13:06 WIB
JAKARTA, KOMPAS.com — Mencuatnya kasus Prita Mulyasari yang dituntut oleh RS Omni Internasional karena dugaan pencemaran nama baik dan pelanggaran Undang-Undang ITE, bisa diibaratkan seperti kotak pandora, karut-marut pelayanan kesehatan di negeri ini.
Demikian dikatakan Sudaryanto, pengurus harian Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia, di Jakarta, Rabu (10/6). Ia menuturkan, selain bermasalah dengan Prita, RS Omni juga sedang bermasalah dengan satu pasien lainnya.
"Ini bisa diibaratkan fenomena gunung es, terlihat dari luar hanya pucuknya saja, tapi jika diteliti lebih lanjut banyak pasien yang mengalami kasus serupa, hanya tidak terdeteksi," paparnya.
Penyebab dari hal tersebut adalah pemerintah yang terkesan tidak peduli tentang karut-marutnya pelayanan kesehatan yang terjadi hampir 10 tahun belakangan ini. "Ditambah lagi, dari 5 tahun belakangan ini banyak perda yang mengatur tentang privatisasi rumah sakit," terang dia.
Jika hal tersebut terus berlanjut, ia mengkhawatirkan masyarakat tidak akan percaya lagi pada rumah sakit yang ada. "Rumah sakit harus menampung aspirasi pasien mereka dan bersifat terbuka. Fungsi itulah yang harus dikembalikan lagi, supaya kepercayaan masyarakat kepada rumah sakit menjadi pulih," katanya.
RDI
http://megapolitan.kompas.com/read/xml/2009/06/10/13063321/YLKI.Kasus.Prita.ibarat.Kotak.Pandora

Post a Comment