Gerakan Konsumen Indonesia
The only thing necessary for the triumph of evil is for good men to do nothing. (Kejahatan hanya bisa terjadi ketika orang baik tidak berbuat apa-apa). ---Edmund Burke

10% Pedagang Mengaku Pernah Potong Ayam Mati

Rabu, 29 Juli 2009 | 03:16 WITA

Hasil Penelitian CHF Internasional di 2 Pasar Tradisional

Makassar, Tribun - Hasil studi lembaga peduli lingkungan, CHF Internasional, melansir temuan dan surveinya di pasar tradisional di Kota Makassar. Hasilnya, pasar tradisional di kota belum aman dari wabah penyakit, rawan terjadi kebakaran hebat.

Data yang justru mencengangkan, sekitar 10 persen dari puluhan pedagang ayam segar di pasar Sambung Jawa dan Toddopuli, mengaku pernah memotong dan menjual ayam yang sudah mati (tiren) bahkan unggas yang sakit.
"Berdasarkan kajian di dua pasar dampingan belum memenuhi kriteria pasar sehat. Kesehatan lingkungan, keamanan pangan, dan perlindungan konsumen," kata Staf CHF Ahmar Djalil dalam Workshop Pasar Sehat dan Sosialisasi Program Insentif di Hotel Mercure, Jl Dg Tompo, Makassar, Selasa (28/7).
Lembaga yang mendampingi pemerintah kota (pemkot) mewujudkan pasar sehat kota ini tidak me nyebutkan berapa pedagang ayam yang jadi sampel penelitiannya soal pasar hygenis. Dua pasar ini akan menjadi percontohan program yang mulai dirintis awal tahun ini.
Ia menambahkan pasar tradisional juga rawan kebakaran. Indikator terlihat dari masih banyaknya penggunaan kompor minyak hingga di atas 10 jam. Selain itu, sambungan listrik di dalam pasar masih kurang aman bahkan "telanjang".
Sekretaris Kota (Sekkot) Makassar Anis Kama mengaku pihaknya mendukung langkah CHF untuk merubah kondisi pasar tradisional di kota ini.
Anis selaku Ketua Badan Pengawas PD Pasar juga berharap program ini terus berlanjut di 16 pasar tradisional. Tidak hanya memberikan pendampingan dan pelatihan, lembaga ini juga disebutkan akan membenahi infrastruktur utamanya lokasi dagangan unggas.(axa)

Pedagang tahu istilah ayam tiren
- Pedagang dan konsumen tahu soal istilah ayam tiren (mati kemaren), mati dulu baru disembelih
- Isu penyebaran dan antispiasi flu burung (H1N1) melalui pedagang unggas di pasar tradisional, masih perlu penanganan serius
- 31 dari pemotong unggas tidak mengetahui gejala maupun penanggulangan flu burung
- 69 persen di antaranya justru tak yakin orang bisa sakit karena kontak dengan unggas (ayam atau bebek)
- Penggunaan alat pelindung diri masih minim digunakan mayoritas pedagang dan pemotong unggas sehingga beresiko terhadap penjual dan orang lain.
- Tidak ada pembatasan area jualan ayam dan komoditi lain sehingga rawan kontaminasi silang
- Lahan basah tidak memiliki ada pengelolahan limbah yang baik sehingga rawan sumber bakteri penyakit
- Jika tidak dibenahi, pasar tradisional bisa dilibas pasar modern

* Sumber diolah dari hasil penelitian CHF Internasional

http://www.tribun-timur.com/read/artikel/41237
0 comments:

Post a Comment

Selamat Datang

Blog ini diproyeksikan untuk menjadi media informasi dan database gerakan konsumen Indonesia. Feed-back dari para pengunjung blog sangat diharapkan. Terima kasih.

Followers


Labels

Visitors

You Say...

Recent Posts