Kamis, 09 Juli 2009 | 08:10 WIB
TEMPO Interaktif, JL'Aquila -Para pemimpin negara-negara Group of Eight (G-8), yang bertemu di Italia selama tiga hari (mulai Rabu waktu setempat), akan membahas pemulihan ekonomi. Negara-negara anggota G-8 (Amerika Serikat, Inggris, Italia, Jepang, Jerman, Kanada, Prancis, dan Rusia) sepakat bekerja sama melawan krisis ekonomi global. Krisis terburuk sejak depresi besar.
Amerika Serikat dan Inggris ada kemungkinan akan mengucurkan stimulus lagi. Tapi Jerman berpikir sudah cukup. Saat ini Amerika Serikat dan Eropa sudah mencatat angka pengangguran yang tinggi. Di Eropa misalnya, jumlah pengangguran di kawasan ini pada Mei melonjak menjadi lebih dari 15 juta orang, tertinggi selama 10 tahun terakhir.
Cina dan negara-negara berkembang lainnya juga akan menghadiri pertemuan tersebut, termasuk Indonesia. Indonesia bersama beberapa negara lainnya yang ikut diundang akan hadir dalam Forum Ekonomi Utama.
Menteri Perdagangan Mari Elka Pangestu dan Menteri Negara Lingkungan Hidup Rachmat Witoelar akan hadir dalam forum itu mewakili presiden Susilo Bambang Yudhoyono.
Ditemui sebelum keberangkatannya ke Italia kemarin, Mari mengatakan Indonesia siap memperjuangkan tiga isu, yakni bidang perubahan iklim, ketahanan pangan, dan perdagangan yang setara dalam.
Apa agenda Indonesia dalam pertemuan G-8?
Ada tiga isu yang akan dibahas: perubahan iklim dan dari sisi perdagangan kami ingin mendorong Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) menyelesaikan putaran Doha serta memberi sikap terhadap praktek proteksionisme. Terakhir soal ketahanan pangan, tapi ini topik terpisah yang akan dibahas.
G-8 pasti juga akan membahas soal krisis global. Kami akan mendorong kepentingan Indonesia dan kepentingan negara-negara sedang berkembang.
Untuk isu perdagangan, apa yang akan diperjuangkan Indonesia?
Tentunya kami akan meminta sistem perdagangan yang adil bagi kepentingan Indonesia agar tidak ditekan terus. Jangan terus dianggap melakukan proteksionisme padahal negara maju juga lebih banyak melakukan itu.
Sistem perdagangan sekarang tidak adil bagi Indonesia?
Krisis ekonomi global membuat industri lebih peka terhadap persaingan karena keadaan permintaan lemah. Ini yang terjadi dan instrumen ini (proteksionisme) lebih banyak dilakukan negara maju. Ini yang kami anggap tidak berimbang. Meski langkah-langkah yang dilakukan konsisten dengan aturan WTO, negara-negara maju memiliki kapasitas dan dana yang jauh lebih besar dari negara berkembang.
Dan ini merugikan negara berkembang?
Ya, ini merugikan Indonesia dan negara berkembang lainnya. Begitu Indonesia atau negara berkembang lainnya menaikkan tarif, seluruh negara maju teriak. Padahal itu juga masih sesuai dengan aturan WTO.
Jadi praktek proteksionisme meningkat akibat krisis ekonomi global?
Semua negara melakukan proteksionisme. Tapi dalam pertemuan ini kami ingin melihat bagaimana sikap para pemimpin menyikapi peningkatan proteksionisme itu. Harus dipastikan proteksionisme atau tidak. Kata yang lebih tepat mungkin proteksi, bukan proteksionisme. Semua negara melakukan itu melalui praktek antidumping atau safe guard dengan tujuan mengamankan pasar dalam negeri.
Bagaimana semua negara harus menyikapi ini secara berimbang bahwa itu sifatnya hanya sementara dan tidak permanen. Kalau perundingan Doha bisa diselesaikan, dengan sendirinya akan mengurangi langkah-langkah proteksionisme yang terjadi.
Indonesia memiliki posisi yang cukup besar untuk bisa memberikan pengaruh dalam pertemuan itu?
Indonesia berpartisipasi di situ. Ya, kita lihat bagaimana nanti pernyataan yang keluar dari forum itu bisa berimbang, tidak berpihak kepada negara maju saja. Forum ini memang penting bagi Indonesia untuk sistem perdagangan yang adil. Putaran Doha juga perlu untuk didorong agar dapat selesai.
AP | BLOOMBERG | VENNIE MELYANI | GRACE S GANDHI
http://www.tempointeraktif.com/hg/bisnis/2009/07/09/brk,20090709-186169,id.html

Post a Comment