Gerakan Konsumen Indonesia
The only thing necessary for the triumph of evil is for good men to do nothing. (Kejahatan hanya bisa terjadi ketika orang baik tidak berbuat apa-apa). ---Edmund Burke

Minyak Tanah Kalahkan Bensin

Saturday, 04 July 2009 11:02

MANADO — Kelangkaan minyak tanah (MT) yang berkepanjangan di Sulut butuh perhatian super serius dari pihak berkompeten. Harga BBM bersubsidi ini kini mencapai Rp5.000 hingga Rp6.000 per liter di warung-warung. Banderol MT buat rakyat tersebut telah melampaui harga bensin yang hanya Rp4.500 per liter. “Ini harus segera diatasi. Kenapa justru pemilik kendaraan yang notabene kalangan menengah ke atas lebih menikmati BBM murah dibanding rakyat kecil,” sindir Ine Y Sondakh, karyawati perusahaan swasta di Manado.
Temuan tim Pemprov Sulut saat tinjauan lapangan justru mengejutkan. Terungkap, jatah MT di pangkalan telah dipangkas agen. “Ternyata stok MT saat ditemui di lapangan memang kurang. Para pemilik pangkalan mengatakan jatah mereka dikurangi agen,” ungkap Karo Perekonomian Setdaprov Sulut, Robby Assah SE MSi.
Kalau mereka biasa dalam sebulan menerima 3 tangki, sekarang hanya mendapatkan 2 tangki. Begitupun yang biasa mendapatkan 2 tangki, hanya didistribusi agen 1 tangki saja. “Inilah yang akan ditelusuri lebih dalam,” tandasnya.
Hasil temuan tim Pemprov menunjukkan terjadi pengurangan pasokan MT untuk Sulut. Tahun 2008, alokasi per harinya 430 KL, sedangkan 2009 tinggal 379 KL. Ini berbeda dengan pernyataan Pertamina yang menyebutkan rutin menyuplai 355 KL per hari. Namun begitu, Assah mengaku masih akan terus melengkapi data. “Kalau sudah dikumpulkan akan kami sampaikan,” janjinya sembari mengatakan hasil tersebut pasti rampung pekan depan.
Dengan fakta tersebut, pihaknya akan melakukan kros cek dengan Pertamina, apakah memang ada pengurangan jatah pangkalan atau tidak. Pihaknya juga akan membandingkan kembali jatah MT dengan kebutuhan masyarakat Sulut. “Yang jelas, sudah ada upaya preventif dari Pemprov. Bagi yang ditemukan melanggar, akan ditindak tegas,” tandasnya.
Tudingan tersebut ditampik Himpunan Swasta Minyak dan Gas (Hiswana Migas) Sulut. “Penyaluran minyak tanah tetap dan tidak ada pengurangan pasokan. Agen tidak mengurangi pasokan. Kalau pasokan 10 kami salurkan 10,” kata James Saerang, anggota Hiswana Migas.
Dia menilai, antrian yang terjadi di beberapa pangkalan mengindikasikan terjadinya perubahan konsumsi di masyarakat. “Sekaligus juga menunjukkan ekonomi masyarakat mulai bergerak,” tambahnya. Apalagi, Agustus nanti Sulut akan menghelat kegiatan internasional Sail Bunaken yang dipastikan memicu peningkatan konsumsi MT.
Pantauan koran ini, sejumlah warga di Kota Manado masih mengeluh sulit mendapatkan MT. “Sudah tiga hari kami sulit mendapatkan MT, di pangkalan pun sudah habis,” ujar Umitiawati, warga Maasing dan Nani Kansil warga Tuminting, terpisah.
Kemarin, banyak pangkalan tidak menjual MT dengan alasan kehabisan stok. “Waktu ingin membeli minyak tanah, di pangkalan sudah habis. Dan tidak tahu kapan akan bisa mendapatkan MT,” ujar Wati warga Wenang.
“Seharusnya pemerintah dan Pertamina, melakukan pengawasan sampai di pangkalan. Jangan sampai pangkalan melakukan penyaluran dan penjualan di warung, sehingga dengan begitu masyarakat dirugikan akibat harga tinggi yang dijual di warung,” kata Mirna warga Teling.
Di daerah-daerah pun MT bermasalah. Di Bolmong, sudah hampir sepekan ini, MT menghilang. Kemarin, antrian panjang dijumpai di sejumlah pangkalan. Sementara mobil tangki pengangkut MT belum juga tiba. ‘’Biasanya kalau minyak kami habis, selalu minta tolong agen untuk dropping MT dari sesama pangkalan,’’ ungkap Iwan, pemilik pangkalan Lisa Tamon, 23 Maret Kotamobagu. Padahal, setiap minggu jatah MT 5.000 liter atau 5 KL. Agen Umar Arif, melalui pangkalan Arief Daud, juga selalu kehabisan MT. ‘’Permintaan kami selalu meningkat tetapi jatah hanya 5 ribu liter per minggu,’’ aku Azam, pemilik pangkalan Arief Daud.
Sementara, pengucapan syukur yang rencananya digelar beberapa kecamatan di Minahasa diduga menjadi pemicu kelangkaan MT. Bila sebelumnya harga MT per liter hanya Rp3.500, saat ini naik menjadi Rp5 ribu. Itupun masih sulit dijumpai. “Sudah dua bulan ini kami sulit mendapatkan minyak tanah. Kalaupun ada, harganya cukup mencekik leher,” ujar Jerry Wagey, seorang warga Tondano.
Warga di Minsel pun dilanda rasa khawatir. Menghadapi perayaan pengucapan syukur, MT makin sulit ditemukan “Dalam seminggu ini biasanya pendistribusian minyak lancar, tapi sekarang kami sulit dapat minyak tanah,” kata Andrias Lengkey warga di Ranoyapo, kemarin.
Bukan hanya di Ranoyapo, di Tumpaan juga demikian. Bahkan kondisi seperti ini sudah berlangsung beberapa minggu. Kabag Ekonomi Minsel Drs George Kumaat SH mengatakan, pihaknya akah melaksanakan operasi pasar jelang pengucapan. “Memang kami sudah menyurat ke pihak Pertamina untuk penambahan minyak, namun sayangnya hal itu belum mendapat tanggapan,” jelasnya sambil menambahkan akan menyurat lagi ke Pertamina Senin depan.
DPRD Minut curiga, kelangkaan MT akibat ulah oknum yang menjual ke industri. “Kami mencurigai minyak tanah dijual ke industri. Karena jatah pangkalan dikurangi,” kata personil Dekab Minahasa Utara Sarhan Antili SE kemarin.
Menurut Antili, dalam hearing waktu lalu sempat terungkap MT dijual ke kontraktor yang mengerjakan proyek. Sebab keuntungan MT dijual ke industri lebih besar dibandingkan ke masyarakat. Harga Eceran Tertinggi (HET) masyarakat, MT Rp2.900 per liter. Sedangkan harga industri Rp7.600 per liter. Antili mendesak, pertamina tidak boleh mengurangi alokasi ke pangkalan, walaupun ada pangkalan baru. “Alokasi per kecamatan maupun ke pangkalan harus tetap, jangan dikurangi,” kata Antili bersama Denny Wowiling.
Di Mitra, pasokan MT masih aman. Di beberapa kelurahan seperti Tosuraya, Lowu, Wawali, ketersedian MT realtif aman meskipun harus antri. “Ketersedian minyak tanah sangat mencukupi karena setiap bulan ada 345 KL yang dipasok masuk ke daerah ini,” ucap Kabag Perekonomian Mitra Drs Jotje Wawointana. “Dari hasil kunjungan kami ke lapangan seperti di desa Posumaen dan Toluan pasokan minyak tanah mencukupi,” tegas Wawointana.
Bupati Talaud dr Elly Lasut ME dan Sekkab Ir FCh Udang MBA MM akan menindaklanjuti masalah MT di Talaud. “Tim Pemkab sementara mencari tahu masalah sulitnya mendapatkan BBM, khususnya minyak tanah,” ujar Lasut dan Udang. (tim)

http://www.mdopost.com/
0 comments:

Post a Comment

Selamat Datang

Blog ini diproyeksikan untuk menjadi media informasi dan database gerakan konsumen Indonesia. Feed-back dari para pengunjung blog sangat diharapkan. Terima kasih.

Followers


Labels

Visitors

You Say...

Recent Posts