Rabu, 29 Juli 2009 | 20:12 WIB
TEMPO Interaktif, CIREBON - Plafon satu kelas di SD Negeri Kramat III Kota Cirebon ambruk menimpa siswa yang sedang belajar. Puluhan siswa terluka.
Peristiwa terjadi ketika 54 siswa kelas IV SD Negeri Kramat III sedang belajar bahasa Inggris. Plafon dari asbes seluas 5x7 m2 ambrol dan menyisakan sekitar seperempat plafon. Pechannay menimpa kepala siswa.
Saat ambruk, siswa pun menangis, terutama siswa yang tertimpa plafon. Mereka kemudian berlarian keluar kelas sambil menangis. Ratih Kusuma Dewi, siswa kelas IV menceritakan saat itu ia duduk di depan kelas. "Tiba-tiba saja atap ambruk," katanya polos. Ia masih bisa menyelamatkan diri lari keluar kelas. 2 temannya ada yang terluka masing-masing bernama Aulia dan Melati yang mengalami luka di bagian kepala dan tubuhnya.
Subagja, wali kelas IV SDN Kramat III mengaku sekitar 15 menit sebelumnya ia sempat mengingatkan siswa untuk berhati-hati terhadap kondisi plafon. "Saat itu saya mengingatkan, takut jika sewaktu-waktu plafon itu ambruk," katanya.
Menurut Subagja, kondisi plafon memang sudah cukup mengkhawatirkan karena sudah terlihat adanya retakan. Bahkan plafon yang berada di bagian belakang sudah menganga. Banyaknya jumlah siswa yang mengalami luka belum diketahui pasti karena langsung dibawa orangtuanya pulang.
Kepala SD Negeri Kramat III, Sukhemi, menjelaskan jika ruang yang ambruk tersebut baru dibangun yang dananya bersumber dari APBD Kota Cirebon pada 2008 lalu. Saat itu dibangun 3 ruang, dua ruang digunakan untuk siswa belajar sedangkan satu ruang lainnya digunakan untuk ruang guru. "Namun berapa dana pembangunannya, saya tidak tahu pasti," katanya.
Tiga ruang tersebut diserahkan ke pihak sekolah pada Januari 2009 lalu. Namun diakui Sukhemi mengaku, baru beberapa bulan digunakan, kondisi bangunan memang telah mengkhawatirkan. Hampir seluruh bagian plafon di 3 ruang yang baru dibangun tersebut retak.
Sementara itu Kepala Dinas Pendidikan Kota Cirebon, Dedi Windiagiri, mengungkapkan pihaknya bertanggungjawab terhadap peristiwa tersebut. "kalau besok ada orangtua yang anaknya mengalami luka-luka mengajukan keberatan, akan langsung kami berikan pengobatan," katanya.
Namun ia berkilah, jika ambruknya plafon di salah satu kelas di SD Negeri Kramat III tersebut bukan akibat kesalahan konstruksi, tetapi akibat pengaruh alam. "Bisa saja akibat peristiwa alam, seperti perubahan cuaca atau angin," katanya.
Saat ditanyakan berapa nilai proyek pembangunan 3 kelas di SD Negeri Kramat III, Dedi mengaku tidak tahu pasti karena merupakan wewenang dari Kimpraswil. Ada pun kontraktornya dikerjakan CV Rimba Panser yang dipimpin Hendra. Pihaknya pun akan mengawasi setiap bangunan baru terutama yang dibangun oleh CV Rimba Panser.
IVANSYAH
http://www.tempointeraktif.com/hg/pendidikan/2009/07/29/brk,20090729-189746,id.html

Post a Comment