Minggu, 20 September 2009 12:00 WIB
Penulis : Ikarowina Tarigan
PAKAR akupunktur dan herbal sekaligus penulis buku Aimee E. Raupp menyatakan, produk-produk kedelai justru buruk bagi kesehatan Anda. Padahal, masyarakat Indonesia pada umumnya adalah penggemar produk-produk kedelai seperti tempe, tahu dan susu. Bahkan banyak di antara kita yang mengonsumsi kedelai sebagai alternatif pengganti daging atau susu karena alergi dengan laktosa yang dihasilkan susu sapi. Selain rasanya yang enak, produk kedelai juga diklaim sangat bagus untuk kesehatan karena kaya akan protein dan vitamin.
Produk kedelai, menurut Raupp, bisa mengganggu siklus menstruasi, mengurangi kemungkinan Anda untuk hamil, memicu osteoporosis, perut kembung, serta memicu hipotiroid."Selain itu, kedelai merupakan salah satu penyebab alergi," tutur Raupp, seperti dikutip situs yahoo.
Bagaimana prosesnya? Menurut Raupp, kedelai ini menjadi buruk bagi kesehatan karena diolah dalam suhu yang sangat tinggi. Cara ini menghilangkan enzim-enzim penting di dalam kedelai yang dibutuhkan tubuh dalam mencerna makanan tersebut. Selain itu, terang Raupp, produk kedelai olahan juga menghasilkan racun-racun dan karsinogen yang tidak baik bagi kesehatan.
Jadi, apakah Anda harus berhenti mengonsumsi kedelai? Tentu tidak. Menurut Raupp, mengonsumsi kedelai dalam jumlah sedang tetap aman. Tetapi, pastikan memperhatikan takaran (kurangi konsumsi) dan perhatikan jenis kedelai yang Anda konsumsi (kurangi produk kedelai olahan). Mengonsumsi dua takar saji produk kedelai yang sudah difermentasi dan tidak dimodifikasi secara genetik, 2-3 kali seminggu tidak akan berakibat buruk bagi kesehatan. Pilihlah produk kedelai yang mudah dicerna sistem tubuh seperti yogurt kedelai, tahu, dan tempe.
Bagaimana dengan susu kedelai? Raupp menganjurkan Anda mencoba alternatif lain seperti susu almond, susu beras atau susu rami. Selain itu, tambah Raupp, ada baiknya mendapatkan protein dari sumber yang tepat."Sebagian besar bar dan protein shake mengandung kedelai turunan yang tidak bagus untuk Anda." karena itu, lanjut Raupp, pastikan memperhatikan label dan menghindari produk yang mengandung nama-nama seperti "hydrolyzed soy protein," "soy lecithin," dan "soy protein isolates". (OL-08)
http://www.mediaindonesia.com/mediahidupsehat/index.php/read/2009/09/20/1644/3/-Bahaya-Kedelai-Berlebih

Post a Comment