Rabu, 2 Desember 2009 | 8:41 WIB
BATU-SURYA- Gegap gempita peringatan Hari AIDS Sedunia 1 Desember tak menyentuh Kota Batu. Tidak ada secuil kampanye untuk menyadarkan warga bahaya penyakit ini.
Para aktivis HIV/AIDS pun semakin prihatin karena hingga sekarang tidak tampak kepedulian Pemkot Batu terhadap penanggulangan HIV/AIDS termasuk pada orang dengan HIV/AIDS (ODHA). “Di Batu hingga kini tak pernah ada klinik khusus untuk ODHA. Termasuk juga klinik visiti, kami pun harus memeriksakan warga yang diduga terjangkit HIV ke Kota Malang,” beber Tri Ghozali, Program Manager HIV/AIDS LSM Paramitra Kota Batu, Selasa (1/12).
Menurut Tri, pemkot seperti menutup mata terhadap keberadaan ODHA yang jumlahnya bertambah tiap tahun. “Saat ini saja kami mendampingi 20 ODHA di Kota Batu. Yang sebagian terkena HIV/AIDS karena menggunakan narkoba suntik,” ungkap Tri.
Ia menyebut, Dinkes Kota Batu pernah memberikan pelatihan kepada perwakilan warga sampai petugas Puskesmas di Beji. Namun pelatihan itu sia-sia karena Dinkes tak melengkapi puskesmas dengan fasilitas seperti laboratorium khusus pemeriksaan HIV/AIDS hingga tim konselor.
“Kami juga berharap Dinkes Kota Batu juga bisa merintis membentukan konselor hingga manager kasus yang nantinya akan membantu ODHA mendapatkan akses pengobatan yang lebih laik sehingga mereka memiliki kualitas hidup yang lebih baik,” bebernya.
Akses Kesehatan
Kondisi ini sangat ironis dengan isu sentral Hari AIDS Sedunia 2009 yaitu ‘akses untuk semua’. Menurut Merlyn Sopyan, Ketua Ikatan Waria Malang (Iwama), kesehatan menjadi hak asasi bagi seluruh manusia, dalam hal ini para ODHA. Pemerintah sudah seharusnya menghapuskan diskriminasi layanan kesehatan bagi ODHA.
Kemarin, Iwama dan sejumlah LSM menggelar aksi di Kota Malang. Iwama ber-longmarch dari Museum Brawijaya di Jl Ijen hingga Bundaran Tugu depan Gedung DPRD Kota Malang.
Mereka hanya membawa empat spanduk, dua di antaranya bertuliskan ‘Stop AIDS’ Akses Untuk Semua. Orasi mereka juga mengajak masyarakat untuk mengantisipasi HIV/AIDS dan terus memberi semangat terhadap ODHA (orang dengan HIV/AIDS) untuk berjuang melawan penyakit yang diderita.
“Kami lebih banyak menggelar aksi social. Pada Hari AIDS Sedunia ini kami mengajak seluruh lapisan masyarakat yang peduli HIV/AIDS untuk mendukung para ODHA mempunyai semangat hidup dan yang sehat tak henti-hentinya untuk mencegah,” kata Bagus Prabowo, seorang aktivis Indonesiaunite di tengah-tengah demo.
Merlyn Sopyan yang juga Manajer Konsultan HIV/AIDS menyatakan saat ini pelayanan tiga tempat yang melayani pemeriksaan dan perawatan ODHA yaitu RS Saiful Anwar, RSI Dinoyo, dan Puskesmas Kendalsari sudah sangat bagus. Anggaran untuk ODHA yang berasal dari funding luar negeri sudah melimpah dan ini perlu dimanfaatkan oleh para ODHA. “Kini kami tak bergantung dari anggaran daerah. Sebab, funding dari luar negeri terus mengucur untuk penyandang ODHA,” kata Merlyn.
Yang menjadi kendala bagi ODHA sekarang adalah masih belum dapat diterimanya mereka oleh masyarakat. Sebagian besar masyarakat masih mengucilkan mereka karena HIV/AIDS dianggapnya penyakit menular yang disebabkan sentuhan kulit. ”Padahal, pemahaman itu salah. Karena itu, kami imbau masyarakat tak perlu takut dengan ODHA tetapi terus dorong mereka agar punya semangat hidup,” ujar Merlyn.
Merlyn juga mengimbau pada ODHA untuk mengedepankan pola hidup sehat. Sebab, pola hidup sehat akan mampu memperpanjang siklus dari HIV ke AIDS dibanding mereka yang tak melakukan pola hidup sehat seperti tetap menenggak minuman keras atau mengonsumsi narkoba.
”ODHA yang tak berpola hidup sehat justru semakin cepat terjangkit AIDS. Kalau hidup sehat 5-10 tahun baru ke AIDS, tetapi jika pola hidupnya tak sehat maka 2-3 tahun sudah bisa terjangkit AIDS,” pungkas Merlyn.st11/ekn
http://www.surya.co.id/2009/12/02/batu-tak-urus-pengidap-aids-berobat-harus-ke-malang.html

Post a Comment