16 December 2009, 09:35
SINGKIL – Harga ikan di Kabupaten Aceh Singkil melambung hingga 40 persen per kilogramnya menyusul terbatasnya pasokan ikan. Para nelayan memilih tidak melaut karena kondisi cuaca yang sangat tidak bersahabat. Mayoritas nelayan di Gosong Telaga, Singkil Utara, dilaporkan sudah sebulan ini libur melaut. Demikian juga dengan nelayan di Singkil, Kuala Baru, dan Pulau Banyak. Meski demikian, sejumlah nelayan masih tetap memaksakan diri melaut walau hanya di seputaran bibir pantai. Hasil yang diperoleh juga sangat minim.
“Besar sekali ombaknya. Paling-paling kalau ada yang ke laut, sampai anak laut Singkil,” kata Muhamad warga Gosong Telaga, kepada Serambi, Selasa (15/12). Pantauan Serambi di pasar tradisional harian Singkil dan pasar bertingkat, Rimo, Gunung Meriah, harga ikan mengalami kenaikan cukup signifikan. Ikan tongkol yang tadinya Rp 13.000 naik menjadi Rp 18.000 per kilo, ikan Gembolo yang paling disukai warga mengalami kenaikan tertinggi dari kisaran Rp 12.000 menjadi Rp 20.000, selanjutnya ikan campur dari Rp 13.000 naik jadi Rp 17.500, dan ikan selar dari Rp 10.000 per tiga kilogram naik menjadi Rp 10.000 sekilo.
“Harga ikan mahal udah gitu tidak banyak pilihan,” ucap Arif pengunjung pasar ikan harian Singkil. Pengusaha rumah makan serta sebagian warga lainya juga mengaku terpaksa membeli ikan yang dijual pedagang keliling dari luar daerah, meski pun tidak sesegar hasil tangkapan nelayan setempat. Karena itu, pemerintah daerah setempat diharapkan dapat membuka lapangan kerja baru bagi nelayan, misalnya dengan budidaya ikan keramba.(c39)
http://www.serambinews.com/news/view/19919/ikan-mahal-di-singkil

Post a Comment