Selasa, 22 Desember 2009 | 08:47 WIB
TEMPO Interaktif, Julia, 30 tahun, warga Jakarta Selatan, baru saja melahirkan putri ketiganya, sebulan lalu. Meski ASI-nya lancar mengalir, sayangnya Julia memutuskan tak ingin memberikan ASI lagi pada si buah hati. "Takut bentuk tubuh tak cantik lagi. Namanya juga anak ketiga," katanya tersipu malu.
Keputusan Julia bukan hal ideal. "Karena ASI bukan pilihan terbaik bagi bayi, melainkan satu-satunya makanan bagi bayi. Satu-satunya," kata Mia Sutanto, Ketua Umum Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia (AIMI) saat berbicara dalam forum catatan akhir tahun AIMI kemarin.
Pendapat Dr dr Dwiana Ocviyanti SpOG (K), ahli kandungan dari Rumah Sakit Umum Pusat Negeri Cipto Mangunkusumo, Jakarta, senada dengan pengamatan AIMI, yang selama dua tahun terakhir gencar mengkampanyekan kembali ke ASI. Menurut Dwiana, berbagai penelitian membuktikan bahwa ibu yang tak berhasil menyusui lebih sering disebabkan oleh faktor luar.
Misalnya, kurangnya pengetahuan ibu tentang manfaat ASI, tidak adanya dukungan bagi ibu, baik dari kalangan medik maupun keluarga. "Bukan karena si ibu tidak mampu menghasilkan ASI," kata Dwiana.
Memang tak mudah mengkampanyekan pemberian ASI bagi bayi di tengah gencarnya promosi dan pengiklanan susu formula. Tapi, menyusui bayi tak bakal menjadi keputusan yang sulit jika para ibu menyadari berbagai keuntungan ASI. Bukan hanya bagi sang buah hati, tapi juga bagi para ibu.
Penelitian tentang ASI yang terus berlanjut menunjukkan banyaknya keuntungan kesehatan dari menyusui bagi bayi. ASI mampu memberi bayi efek perlindungan, termasuk menurunkan risiko infeksi pencernaan, kandung kemih, saluran napas, menurunkan risiko infeksi telinga, mencegah diare, dan risiko SIDS (sudden-infant death syndrome) atau sindrom kematian bayi mendadak, alergi, diabetes, dan bahkan obesitas di masa datang.
"Bahkan penelitian terakhir menyebutkan, ibu dengan HIV/AIDS justru dianjurkan tetap menyusui anaknya demi daya tahan tubuhnya. Si ibu hanya diminta tetap minum anti-retroviral (ARV) sejak kehamilan," kata dr Henny Hendiyani Zaenal, konsultan laktasi dari AIMI.
Adapun bagi si ibu sendiri, manfaat menyusui tak kurang dahsyat. "Segera setelah melahirkan, proses menyusui oleh bayi pada puting susu ibu akan merangsang pengeluaran hormon oksitosin," tutur Dwiana.
Kemunculan hormon oksitosin ditambah gerakan kaki bayi saat inisiasi menyusui dini berperan membantu kontraksi rahim untuk berinvolusi atau mengkerut dengan lebih baik hingga ke kondisi sebelum kehamilan. "Proses involusi juga mengurangi perdarahan selama masa nifas serta dapat mencegah terjadinya infeksi pada rahim pada masa nifas," Dwiana melanjutkan.
Selain itu, proses menyusui akan membangun sejak dini hubungan ibu dan bayi, mempermudah adaptasi bayi di luar rahim setelah proses persalinan, juga membantu ibu beradaptasi dengan bayinya setelah persalinan sehingga menurunkan risiko terjadinya "post partum blues" hingga depresi pasca-persalinan pada ibu.
"Dalam jangka panjang, menyusui juga terbukti menurunkan risiko terjadinya kanker payudara, kanker indung telur, dan diabetes melitus pada ibu," ujar Dwiana, mengutip Journal of The American Dietetic Association edisi November 2009.
Para ibu sebenarnya tak perlu juga risau kecantikannya akan luntur atau bentuk tubuhnya akan berubah dengan menyusui. "Sebab, misalnya saja bentuk payudara bukan berubah karena menyusui, melainkan sejak kehamilan sudah berubah karena penambahan kelenjar sudah terjadi pada saat kehamilan," kata Dwiana. Penggunaan penyangga payudara yang tepat bisa sedikit-banyak bisa mencegah perubahan pada payudara.
Bahkan bonusnya, Dwiana mengatakan, menyusui ternyata mempercepat pengurangan penumpukan lemak pada pinggul dan paha ibu yang terjadi selama kehamilan. "Menyusui justru membantu ibu kembali pada bentuk tubuh seperti sebelum hamil," kata Ovie.
Tak percaya? Helena Bonham Carter, aktris pemeran si penyihir jahat Bellatrix Lestrange di film Harry Potter, telah membuktikan hal ini. Menurut Carter, "Orang bilang saya sungguh baik hati karena mau menyusui. Padahal saya menyusui karena ini membentuk payudara saya dan membuat pinggul saya tetap langsing. Ibaratnya sedot lemak alami. Kalau perlu, saya mau menyusui seumur hidup saya, kok." Nah!
UTAMI WIDOWATI
http://www.tempointeraktif.com/hg/kesehatan/2009/12/22/brk,20091222-215024,id.html

Post a Comment