Gerakan Konsumen Indonesia
The only thing necessary for the triumph of evil is for good men to do nothing. (Kejahatan hanya bisa terjadi ketika orang baik tidak berbuat apa-apa). ---Edmund Burke

Cara Sederhana untuk Sehat

Minggu, 03 Januari 2010 pukul 08:03:00

Oleh: Reiny Dwinanda

Hidup sehat tak harus dimulai dengan obat. Tapi, dengan memilih gaya hidup yang benar.

Hal-hal kecil ternyata dapat membuat hidup keluarga lebih sehat. Sejumlah bidan yang mengikuti seleksi Bidan Terbaik program Pos Bakti Bidan mempraktikkan di lingkungannya. Apa saja yang dapat dicontoh?

Pemberian obat cacing

Obat cacing tiga bulan sekali pada bocah yang kurus, tepatkah perlakuan ini? Dr Kartono Muhammad menilai itu sebagai langkah yang keliru. Obat cacing tidak semestinya diberikan pada sembarang anak. ''Sebab, banyak faktor yang dapat menyebabkan anak memiliki berat badan kurang,'' jelasnya.

Lalu, kapan sebaiknya seorang anak mendapatkan obat cacing? Kartono meminta agar tenaga kesehatan cermat dalam memberikan obat cacing. ''Secara ekonomis pun akan lebih baik jika feses anak diperiksakan dulu ke laboratorium untuk melihat positif cacingan atau tidak,'' urainya.

Pemberian obat cacing tanpa dasar justru akan merugikan anak. Pun, berdampak finansial. ''Kalau ternyata tidak dibutuhkan, obat cacing akan memperberat kerja hati,'' papar Kartono yang pernah menjabat sebagai ketua Ikatan Dokter Indonesia dalam proses penjurian Srikandi Award yang digelar PT Sari Husada beberapa waktu lalu di Jakarta.

Kartono mengimbau agar pemberian obat cacing dikonsultasikan ke dokter di Posyandu. Ini untuk menghindari kesalahan takaran pemberian obat. ''Dosisnya harus pas sesuai dengan berat badan.''Penyakit cacingan dapat dicegah dengan cara yang mudah. Mencuci tangan sehabis bermain dan tidak membiarkan kuku anak menjadi panjang adalah trik terbaik dalam mengantisipasinya. ''Ingat, anak kurus yang suka bermain tanah sekalipun belum tentu cacingan,'' tandas Kartono.

Puskesmas dan Posyandu

Bidan Syarifah Ningsih dari Kelurahan Tuan-tuan, Ketapang, Pontianak, Kalimantan Barat mengimbau masyarakat untuk tidak sungkan datang ke Posyandu dan Puskesmas. Kedua lembaga kesehatan tersebut harus dimanfaatkan untuk mendapatkan informasi sekaligus sebagai langkah pencegah pun deteksi dini penyakit. ''Selama ini warga hanya datang ke Puskesmas saat ada keluhan saja,'' sesalnya.

Syarifah yang meraih Srikandi Award kategori Millenium Development Goals (MDGs) 4 melihat kesehatan gigi dan mulut juga menjadi masalah utama yang dihadapi warga ciliknya. Nyaris semua balita memiliki gigi berlubang dan karies. ''Sebaiknya datang ke Puskesmas enam bulan sekali untuk memeriksakan gigi anak, sebelum terjadi masalah.''

Mengatasi gizi buruk

Sementara itu, bidan Yuninda Asih Wilangsari dari Kelurahan Gemah, Semarang menemui seorang ibu yang gengsi untuk datang ke Posyandu. Ibu ini malu mengakui anaknya kurang gizi. ''Dia tak mau datang ke Posyandu untuk mendapatkan makanan tambahan yang dibagikan gratis tiap bulannya.''

Terhadap ibu seperti itu, Yuninda tak kehilangan akal. Ia melakukan pendekatan pribadi. ''Saya ajak bicara dari hati ke hati, demi buah hatinya,'' cetus bidan yang menyabet Srikandi Award kategori MDGs 4. Meningkatkan berat badan anak agar keluar dari garis merah grafik pertumbuhan sesuai Kartu Menuju Sehat (KMS), memang tidak mudah.

Pemberian makanan tambahan dari Posyandu yang hanya sebulan sekali memang juga tidak bisa diandalkan. ''Untuk itu, harus ada perbaikan menu yang diupayakan mandiri oleh keluarga,'' saran Yuninda. Dengan anggaran dapur yang tak seberapa, lanjut Yuninda, orangtua masih bisa menyajikan makanan kaya gizi buat balitanya. Asalkan, mereka mau mengalah. ''Uang rokok, misalnya, bisa dibelanjakan untuk membeli telur.''

Yuninda kemudian mengajak agar masyarakat mau mendobrak hal lain yang membudaya. Tradisi mendahulukan ayah, contohnya. ''Di daerah saya, menu mewah seperti ayam dan daging diutamakan untuk bapak. Lalu, anaknya makan apa?''Para ibu juga diajak untuk mampu memasak bahan makanan secara bervariasi. Lele, misalnya, bukan cuma bisa digoreng biasa. ''Coba dibikin nugget atau kaki naga, anak-anak pasti suka,'' ujar Yuninda yang juga dosen di STIKES Telogorejo, Semarang.

Andaikan memungkinkan, lanjut Yuninda, ajaklah beberapa orang tetangga untuk sama-sama meningkatkan ekonomi keluarga. Seperti yang ia dan warga RT 7/ RW 10, Kelurahan Gemah, Semarang lakukan. ''Kami bersama mengelola kolam lele yang hasilnya untuk konsumsi bersama dan sisanya dijual.''Tempat Yuninda tinggal termasuk perkotaan dengan lingkungan padat penduduk. Tiap rumah hanya memiliki lahan secuil yang bisa dimanfaatkan. "Beruntung, ibu RW merelakan sebagian halamannya seluas 3x4 meter untuk dijadikan kolam terpal ternak ikan lele warga."

Ibu hamil

Sebagian besar ibu hamil mengalami anemia. Hanya saja, mereka kerap tidak menyadarinya. ''Padahal, anak sehat tumbuh sejak konsepsi dan kehamilan yang sehat,'' ujar bidan Nurhayati Wantono dari Desa Tuko, Grobogan, Jawa Tengah.

Bagaimana cara praktis mengenali anemia? Wanita hamil dianjurkan untuk memeriksakan darahnya dua kali selama masa mengandung. ''Baiknya dilakukan di awal dan trimester terakhir kehamilan,'' saran Nurhayati. Bagi yang anemia, bidan dapat memberikan tablet suplemen zat besi dengan dosis yang sesuai kebutuhan. Lalu, mereka diminta untuk melakukan pemeriksaan darah sebulan sekali. ''Jika dinilai mengalami anemia berat, bidan akan merujuk ibu hamil ke dokter,'' kata Nurhayati.

Saat memeriksa kondisi ibu hamil, bidan juga akan melakukan pengukuran lingkar lengan. Ini untuk memantau kecukupan energi wanita hamil. ''Kalau kurang dari 23,5 cm tandanya kurang energi kronis untuk beraktivitas normal.''Selain memeriksa kesehatan ibu hamil, bidan juga dapat memantau pertumbuhan janin. Dengan meteran dapat diketahui ukuran janin. ''Lalu, ada juga doppler, alat cek denyut jantung janin.''

Ibu hamil tentu memerlukan tambahan energi selama mengandung. Tapi, tak pula perlu makan berlebihan. ''Kisarannya setara dengan 1,5 gelas susu,'' imbuh dr Fiastuti Witjaksono MS SpGK dalam kesempatan berbeda. Tambahan energi tersebut bisa didapat dari makanan yang sering dianggap berdampak buruk bagi janin. Ikan asin dan telur, misalnya, mitosnya dapat membuat bayi yang dilahirkan berbau amis.

''Padahal teri, ikan asin, dan telur bagus untuk dikonsumsi,'' ungkap Nurhayati yang meraih Srikandi Award kategori MDGs 5.Nurhayati juga mengimbau agar ibu hamil rajin mengonsumsi buah-buahan. Sejumlah buah lokal yang mudah didapat di sekitar dapat menjadi pilihan. ''Buah baik untuk kecukupan vitamin dan mineral serta serat.''

http://www.republika.co.id/koran/105/99538/Cara_Sederhana_untuk_Sehat
0 comments:

Post a Comment

Selamat Datang

Blog ini diproyeksikan untuk menjadi media informasi dan database gerakan konsumen Indonesia. Feed-back dari para pengunjung blog sangat diharapkan. Terima kasih.

Followers


Labels

Visitors

You Say...

Recent Posts