Senin, 4 Januari 2010 | 02:44 WITA
PLN Janji Krisis Listrik Diatasi Juni Tahun Ini
Makassar, Tribun - Pemadaman listrik bergilir di wilayah Sulawesi Selatan (Sulsel) diperkirakan masih akan berlangung hingga bulan Mei mendatang.
Generam Manager (GM) PT PLN Wilayah Sulawesi Selatan, Sulawesi Barat, dan Sulawesi Tenggara (Sultanbatara), Haryanto WS, berjanji pemadaman bergilir tidaka akan terjadi lagi pada bulan Juni mendatang.
"Kita akan terus mengawal perbaikan mesin pembangkit di PLTG (Pembangkit Listrik Tenaga Gas) Sengkang yang belum juga diatasi," kata Haryanto.
Deputi Deputi Manajer Komunikasi dan Hukum PT PLN Sultan Batara, Moch Yamin Loleh, Minggu (3/1), menyebutkan perbaikan turbin GT 21 milik PT Energy Sengkang (PLTG Sengkang) yang dijanjikan rampung pada 31 Desember lalu tidak bisa ditepati dan molor hingga 15 Januari mendatang.
Sejumlah pelanggan mengaku khawatir dengan kondisi tersebut sebab mereka sudah merasakan pemadaman dalam tiga bulan terakhir. Bahkan ada warga yang merasakan pemadaman hingga 10 jam dalam sehari.
"Dua malam lalu atau Jumat (1/1) malam, di sekitar rumah kami di Jl Laccukang terjadi pemadaman sekitar dua jam dari pukul 18.00 wita hingga pukul 20.00. Kami menelepon bagian pemadaman di kantor PLN Rayon Utara Makassar tapi petugasnya juga tidak tahu kenapa padam," kata Ny Tini.
Sementara itu, kampus Universitas Hasanuddin (Unhas) yang selama ini "bebas" dari pemadaman kini juga sudah merasakan pemadaman, termasuk di saat aktivitas perkuliahan sedang berlangsung.
Namun Pembantu Rektor II Unhas Dr dr Wardihan Sinrang SpAnd MS, menduga, padamnya listrik di kampus terbesar di Indonesia timur itu akibat travo litsrik yang rusak namun belum mendapat perbaikan atau penggantian dari PLN.
Ingkar Janji
Menurut Yamin, bila pihak Energy Sengkang serius ingin bertemu dengan Gubernur Sulsel, Syahrul Yasin Limpo, pihaknya meminta untuk ikut dilibatkan. "Jangan sampai apa yang disampaikan tidak sesuai dengan yang akan disampaikan ke pihak PLN dan masyarakat," lanjutnya.
Sebelumnya, Haryanto juga mengungkapkan kekecewaannya dengan jawaban dari manajemen PLTG Sengkang yang tidak memenuhi janji menyelesaikan perbaikan turbin GT21 akhir Desember lalu. Energy Sengkang malah menyalahkan keterlambatan pengiriman komponen sukucadang mesin dari Jerman.
"PLN sangat prihatin dengan sikap Energy Sengkang yang tidak memenuhi janji. Ternyata reputasi dan pengalaman sebagai perusahaan besar tidak bisa dipercaya lagi," ungkap Haryanto.
Molornya pekerjaan turbin GT 21 itu, diperoleh PLN setelah dua kali melakukan pertemuan resmi dengan manajemen PLTG Sengkang di Desember lalu.
Dalam pertemuan itu PLN mendesak perusahaan asing itu menepati janji pada 31 Desember. Namun permintaan perusahaan negara ditolak karena alasan komponen pengganti belum tersedia 100 persen.
Dalam pertemuan itu, pihak Energy Sengkang menyalahkan pihak Bea Cukai Jakarta yang menahan sejumlah komponen penting. Termasuk menunggu beberapa komponen lain yang masih dalam perjalanan ke Indonesia.
Jawaban tersebut dinilai akan berdampak serius pada beberapa pembangkit listrik yang sudah masuk masa perawatan. Pembangkit yang akan masuk masa perawatan adalah PLTG Tello, PLTD Suppa milik PT Makassar Power di Parepare, dan satu turbin unit dua di PLTG Sengkang.
Menurut Haryanto tidak pilihan lain kecuali meminta masa perawatan dibatalkan sambil menunggu penyelesaian turbin GT21. Pembatalan itu akan berdampak pada kerusakan yang kian meluas di PLTG Tello, PLTD Suppa, dan PLTG Sengkang unit dua. Khusus PLTG Sengkang diminta untuk menyalurkan 80 persen energi listrik ke PLN.
Saat dikonfirmasi via telepon terkait molornya perbaikan turbin GT21, Environment Health and Safety (EHS) Manager PT Energy Sengkang, Darma Sakti, tidak mengangkat teleponnya.
PLTA Bakaru
Yamin mengaku, kondisi kelistrikan masih bisa terbantu dengan masuknya musim penghujan mulai Desember lalu untuk mengoperasikan PLTA Bakaru.
Menurutnya, pembangkit tersebut tidak ada masalah baik dari sisi elektrik mekanik dan juga debit air. Saat ini debit air di PLTA Bakaru sudah mencapai 20-25 meter kubik per detik dari standar 45 meter kubik per detik.
Turunnya hujan itu, membuat satu turbin sudah dapat meningkatkan produksi listrik menjadi 60 MW di siang hari dan 120 MW malam hari. Padahal, sebelumnya saat krisis air di periode September-November tahun lalu, PLTA Bakaru hanya mampu menyalurkan daya 30 MW di siang hari dan 60 MW pada malam hari.
Meski begitu, lanjut Yamin, tidak berarti hujan hari ini di wilayah DAS Mamasa langsung bisa dinikmati di PLTA Bakaru, karena butuh perjalanan panjang sehingga diperkirakan baru bisa dinikmati besoknya.
Setiap beban puncakpun, diakui Yamin, akan menjadi masalah karena belum masuknya daya dari turbin GT21 Energy Sengkang. Jika daya dari mesin GT21 Energy Sengkang sudah masuk ke sistem, bisa dipastikan krisis listrik bisa diminimalisir.
PLN juga mendapatkan tambahan pasokan listrik dari captive power sebesar 17 MW yang disewa dari PT Sewatama. Ditambah lagi listrik dari PLTD Tello yang berkapasitas 110 MW. PLN akan mendapatkan tambahan listrik 70 MW di awal Maret 2010 dari captive power asal China yang masih dalam masa pengerjaan. Rencananya 20 MW dari captive power asal China itu mulai beroperasi Januari.
Tambah Travo
Listrik di Unhas padam terjadi sejak 29 Desember lalu.
Wardihan mengatakan, usia travo yang digunakan Unhas sudah cukup tua dan belum pernah diganti sejak digunakan sejak awal berdirinya kampus Unhas, Tamalanrea pada 1985 lalu.
"Kita rencanakan menambah dua trafo di FISIP dan di Agrokomplek karena di Agrokomplek juga sering mati-mati," tambah Wardihan.
Menurutnya, PLN seharusnya secepatnya mengganti travo yang rusak. Kalau bisa sebelum perkuliahan mulai jalan. "Listrik sangat penting di kampus. Jika listrik mati maka maka banyak yang ternggu, aktivitas perkuliahan terganggu, dan kegiatan penelitian juga terganggu," jelas Wardihan.
Wardihan menyebutkan, penggunaan listrik di Unhas cukup besar namun dia tidak dapat merinci berapa daya listrik yang digunakan Unhas per bulannya.
Dia menyebutkan biaya listrik yang harus dibayar Unhas setiap bulannya mencapai Rp 275 juta- Rp 300 juta. Biaya ini merupakan total biaya untuk semua daerah Unhas yakni untuk kampus Baraya dan kampus Tamalanrea. Biaya paling banyak di kampus Unhas Tamalanrea sebagai pusat perkuliahan sebagian besar fakultas di Unhas.
Rumah Sakit Pendidikan Unhas juga direncanakan digunakan pada tahun 2010 ini. Tapi menurut Wardihan penggunaan listrik untuk rumah sakit pendidikan ini tidak terlalu tinggi.
Padamnya listrik ini membuat berbagai kegiatan mahasiswa dan dosen terhambat. Unit kegiatan mahasiswa tidak berjalan sebagaimana mestinya. Salah satu yang terkena dampaknya adalah koran kampus PK identitas dan radio kampus EBS.
Pemimpin Redaksi PK identitas Unhas, Hidayat Doe, menilai masalah listrik adalah masalah besar di kampus. "Ini urat nadi kegiatan pendidikan di kampus jadi jangan biarkan lama," kata Hidayat.
UNM Berhemat
Masalah listrik juga dialami Universitas Negeri Makassar (UNM). Apalagi pada 2010 ini UNM merencanakan akan menempati beberapa gedung baru yakni Gedung Wirausaha dan gedung Pusat Pelayanan Akademik UNM di Menara Phinisi. Kepala Biro (Kabiro) Administrasi Umum dan Keuangan UNM M Syatir Mahmud yang ditemui Tribun, kemarin.
"Kita tidak bisa pungkiri akan ada penambahan pemakaian listrik. Apalagi saat ini kita banyak menggunakan fasilitas yang menggunakan listrik," ujar Syatir.
Untuk menanggulangi terjadinya pemadaman listrik UNM telah menyiapkan empat genset yang akan dipakai suatu saat jika terjadi pemadaman listrik. Genset ini digunakan di beberapa titik penting di UNM, yakni gedung rektorat, gedung wirausaha, gedung pascasarjana, dan auditorium Amanagappa. Selain, itu pihaknya juga membudayakan program hemat listrik.
Unismuh
Pemadaman listrik juga berpengaruh di kampus Universitas Muhammadiyah (Unismuh) Makassar. Hal ini diungkapkan oleh Pembantu Rektor I Bidang Akademik Unismuh Dr Abdul Rahman Rahim.
Apalagi tahun 2010 ini Unismuh akan menerapkan sistem pelayanan akademik berbasis ICT. "Masalah listrik itu ada pengaruhya karena ketergantungan listrik kita lumayan besar. Apalagi penggunaan internet itu menggunakan listrik," ujarnya.
Untuk saat ini Unismuh hanya memiliki dua genset. Genset ini hanya mampu menerangi sekitar 60 persen kampus. "Kita sudah memikirkan untuk penambahan daya. Kita juga sudah lama mengusulkan gardu listrik di dalam kampus tapi belum terpenuhi di PLN," tambahnya. (ana/mel)
http://www.tribun-timur.com/read/artikel/66921

Post a Comment