2009-07-14
[JAKARTA] Indonesia bisa ikut menyediakan kebutuhan pangan dunia (feed the word) jika mampu meningkatkan produktivitas tanaman pangan. Potensi Indonesia sangat besar karena memiliki lahan yang luas, iklim yang mendukung, dan sumber daya manusia yang cukup banyak. Saat ini, sejumlah komoditas penting sudah bisa swasembada, seperti beras dan jagung.
"Semuanya tersedia di negara kita, tinggal memberi pengetahuan kepada petani dan sentuhan teknologi. Kebutuhan pangan terus meningkat seiring bertambahnya jumlah penduduk dunia. Jagung, misalnya, sangat dibutuhkan di seluruh dunia, untuk pangan dan pakan ternak," ujar Sek-jen Dewan Jagung Nasional (DJN) Maxdeyul Sola kepada SP di Jakarta, Selasa (14/7).
Maxdeyul mengatakan, peningkatan produksi jagung dunia didorong kemajuan teknologi, terutama hibrida, kemudian transgenik.
Hibrida sudah diterapkan sejak lama dan berhasil memenuhi kebutuhan pangan di negara-negara berpenduduk sangat banyak, seperti Tiongkok, India, dan Amerika Serikat. Di Indonesia, awalnya hibrida ditentang, namun kini berkembang pesat.
"Produktivitas jagung paling tinggi dibandingkan padi dan gandum, karena satu butir bisa menjadi 700 butir dalam satu bonggol. Tanaman ini lebih multiguna, yakni untuk makanan, pakan ternak, bahan bakar nabati atau biofuel, dan polymer. Jagung juga meru- pakan tanaman paling adap-tif, baik di kawasan tropis maupun subtropis, dari dataran rendah sampai tinggi," ucapnya.
Saat ini, ungkapnya, produksi jagung dunia mencapai 750 juta ton, sebagian besar dikonsumsi oleh negara produsennya, dan sekitar 75 juta ton atau 10% masuk pasar dunia. Sebanyak 73 negara (15 negara maju dan 58 negara berkembang) menjadi penghasil jagung. AS adalah penghasil jagung utama dunia dengan luas 35 juta ha dan produksi lebih dari 350 juta ton, 80%-nya transgenik.
Dia menjelaskan, banyak negara menerapkan genetically modified organism (GMO) atau produk rekayasa genetik (PRG), disebut juga transgenik, agar produksi meningkat. Transgenik, katanya, juga merupakan hibrida super, yakni membuat tanaman bisa tahan di lahan kering atau tahan serangan hama. Areal tanaman GMO di dunia mencapai 120 juta ha, termasuk jagung, kedelai, gandum, kentang, dan padi.
Biofuel dan Etanol
Namun, ungkap Maxdetul, cuaca buruk yang kerap terja-di di negara-negara pengha- sil jagung, seperti AS, Bra- sil, Argentina, Tiongkok, dan sebagian Eropa berpotensi menurunkan suplai jagung dunia.
Selain itu, program biofuel atau etanol di negara penghasil jagung berjalan cepat dan terus meningkat, sehingga mengurangi ekspor jagung. Kondisi ini menjadi peluang bagi Indonesia.
Data Departemen Pertanian menunjukkan, produksi jagung nasional terus meningkat, mencapai 15,8 juta ton pada 2008, dan diperkirakan naik menjadi 16,47 juta ton pada 2009, sehingga bisa swasembada dan mulai mengekspor.
Namun, produktivitas rata-rata nasional masih empat ton/ha, padahal dengan hasil eksperimental dengan trans-genik bisa di atas 10 ton/ha. [S-26]
http://www.suarapembaruan.com/index.php?detail=News&id=9187

Post a Comment