Kamis, 9 Juli 2009 | 00:16 WIB
BANDUNG, KOMPAS.com - Hampir setiap sudut kota Bandung terdapat kios-kios yang menjual berbagai jenis obat kuat dan alat bantu vitalitas untuk hubungan pria dan wanita.
Kios-kios yang menjual obat kuat yang rata-rata bermerk dalam bahasa Cina terus bertambah jumlahnya dan pada lokasi strategis dengan memasang plang bertuliskan besar.
Pemandangan semacam itu ditemui di kawasan Leuwi Panjang hingga Cibaduyut. Dalam jarak yang tidak begitu jauh dengan mudah ditemui kios penjual obat kuat.
Dulu hanya sedikit orang yang mau berjualan obat kuat, dan jumlahnya cukup banyak. "Mungkin karena konsumennya juga bertambah banyak," kata Eka penjual obat kuat di kawasan Leuwi Panjang.
Para konsumen pengguna obat kuat biasanya adalah orang tua yang telah berumur diatas 30 tahun namun tidak sedikit anak muda atau mahasiswa yang mengkonsumsi obat kuat.
Biasanya untuk menghindari rasa malu, konsumen memilih layanan antar dalam membeli obat kuat di sebuah kios.
Konsumen yang datang langsung membeli biasanya yang masih awam dalam menggunakan obat kuat. Hampir setiap kios mempunyai langganan tetap dan biasanya mereka menggunakan jasa antar ke rumah atau hotel, ujar Eka.
Dalam satu bulan kios obat kuat ini dapat menghasilkan omzet mulai dari satu juta hingga lima juta.
"Kios saya dalam satu bulan bisa mencapai 2,5 juta, ini masih tergolong kecil dalam bisnis kios obat kuat," katanya.
Biasanya untuk menarik konsumen sejumlah kios toko obat kuat memasang iklan di media cetak lokal. Hal ini bertujuan agar memudahkan konsumen dalam mencari kios ataupun dapat menelepon secara langsung.
Obat kuat yang dijual bebas di pasaran ini merupakan obat dari lokal dan impor, dan biasanya yang impor berasal dari Cina dan Amerika. Obat kuat yang impor biasanya yang paling laku dibeli konsumen. Mungkin karena kemasannya yang menarik, katanya.
Sumber : Antara
http://kesehatan.kompas.com/read/xml/2009/07/09/00164846/kios.obat.kuat.menjamur.di.bandung

Post a Comment