Senin, 11 Januari 2010
METRO (Lampost): Kekurangan air menjadi kendala serius bagi petani di Metro. Sejumlah petani mengakui keterbatasan air berpengaruh terhadap produksi pertanian mereka, di mana dalam setahun seharusnya bisa tiga kali panen, kini hanya satu kali penen. Sementara, jatah air irigasi di Metro dilakukan secara bergilir guna memenuhi kebutuhan petani.
"Banyaknya penebang liar mengakibatkan terjadinya penyusutan debit air di Metro. Untuk itu, perlu dicarikan solusinya," kata Wali Kota Metro Lukman Hakim di sela-sela acara pelantikan pengurus Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) di aula Pemkot Metro, Jumat (8-1).
Lukman juga membenarkan petani harus digilir mendapatkan air untuk lahan pertaniannya. Padahal, kata dia, di daerahnya pertanian masih menjadi amat penting lantaran 51,2 persen merupakan areal sawah teknis.
Artinya, mayoritas masyarakat masih mengandalkan hidup dari sektor pertanian.
Lukman juga mengakui saat ini air menjadi permasalahan krusial bagi petani di daerahnya. Pemerintah Metro kini masih berupaya mencarikan solusinya. Menurut dia, perlu adanya sumber air baru.
"Kami perlu mengadakan sumur bor untuk mengatasinya. Namun, harus dikaji lebih dulu," ujar dia.
Selama ini, untuk air irigasi di Metro masih mengandalkan air dari Sekampung. Kendala air bagi petani juga diakui Ketua HKTI Lampung Faisol Djausal. Dia meminta insan pers di Lampung membantu menekan maraknya pembalakan liar.
Dia mengatakan penyusutan air terjadi akibat maraknya penebangan hutan. Sementara untuk membantu menambah penghasilan petani, Faisol berharap para petani di Metro berekspansi ke bidang usaha produktif lain, seperti beternak sapi. "Jadi, sambil bertani juga usaha ternak," ujar dia.
Dia mengatakan beternak sapi potensial dijadikan penghasilan tambahan.
Saat ini, Indonesia masih impor daging dari luar negeri. Sementara, peluang untuk ternak sapi di Lampung amat terbuka. Sebab, potensi bahan pangannya di samping mudah didapat juga masih murah.
Menurut Faisol, masalah para petani yang kini harus menjadi perhatian, selain air ialah modal dan keterbatasan ilmu pengetahuan pertanian. Petani butuh modal untuk membeli pupuk, bibit unggul, dan kebutuhan usaha taninya. Petani juga butuh ilmu pengetahuan untuk menghasilkan produksi hasil pertaniannya yang optimal.
Selain itu, pasar juga menjadi masalah. "Jangan sampai ketika harga anjlok Bulog tidak beli," ujar dia. n CAN/D-3
http://www.lampungpost.com/cetak/berita.php?id=2010011103361013

Post a Comment